Yang Pop dan Uptodate

Rabu, 05 Agustus 2009

Pengajaran Sastra dan Metodenya

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sudah sejak lama terdengar sorotan yang ditujukan kepada pelaksanaan pengajaran sastra yang dianggap tidak berhasil menumbuhkan minat peserta didik terhadap karya sastra. Pengajaran sastra lebih mengutamakan pengetahuan mengenai sastra dan kurang memperkenalkan karya sastra itu sendiri. Pengajaran sastra selama ini lebih bersifat verbalititas dengan jalan menyodorkan sejarah kesusastraan, bentuk-bentuk sastra, dan unsur-unsur sastra secara terpisah. Jika karya sastra itu pun dibicarakan, biasanya hanya terbatas pada ringkasan cerita yang bersifat hapalan yang membosankan, sehingga jauh dari harapan akan menumbuhkan minat, terlebih lagi daya imajinasi peserta didik. Pengajaran sastra tidak memberikan peluang kepada peserta didik untuk memperkaya pengalaman batin mereka.
Fenomena pengajaran sastra selama ini menunjukkan bahwa siswa belajar sastra hanya karena tujuan mendesak, yakni memenuhi tuntutan kurikulum dan agar dapat lulus pada ujian akhir. Dampaknya, pelajaran sastra bagai beban dan paksaan semata.
Tujuan pengajaran sastra adalah agar siswa mempunyai pengalaman berekspresi sastra. Pengalaman berekspresi sastra ini dilakukan sebagai kegiatan mengembangkan daya imaji, rasa, dan daya cipta. Pengalaman ekspresi sastra ini akan lebih tepat bila diintegrasikan dengan keterampilan menulis. Misalnya menulis puisi.
Kegiatan menulis puisi adalah kegiatan yang bersifat produktif-kreatif. Kegiatan ini dilaksanakan melalui suatu proses yang dinamakan proses kreatif. Rampan (Salam, 2005) menyatakan bahwa proses kreatif mengalir di dalam suasana kreatif yang memungkinkan lahirnya karya-karya dengan bahasa indah dan dari segi pemikran cukup mendalam. Sejalan dengan pendapat di atas, Mulyati (Salam, 2005) menyatakan bahwa proses kreatif berkembang jika terdapat empat unsur terkait. Unsur-unsur tersebut adalah (1) pengenalan pribadi dan pengetahuan, (2) dorongan internal dan eksternal siswa, (3) kebermaknaan belajar, dan (4) hasil yang bernilai bagi orang lain. dengan terpenuhinya keempat unsur kreatif tersebut, kegiatan pembelajaran menulis puisi akan mencapai hasil yang maksimal. Dalam kegiatan menulis puisi, siswa perlu mendapat satu arahan sehingga memudahkan dalam proses pembelajaran. Sukristanto (Salam, 2005) mengemukakan bahwa kemampuan menulis puisi dapat dicapai dengan bimbingan yang sistematis serta latihan yang intensif. Siswa hendaknya diarahkan dengan bimbingan tahap demi tahap tentang apa yang harus dilakukannya. Proses pelaksanaan menulis puisi sebaiknya memperhatikan tahap-tahap kreativitas yang dikemukakan oleh Rhodes (Edraswara, 2002: 218) yaitu tahap preparasi, inkubai, iluminasi, dan verifikasi. Pada tahap preparasi, dilaksanakan kegiatan pengumpulan data atau informasi yang akan dijadikan bahan penulisan. Tahap inkubasi dilakukan dalam usaha untuk mengendapkan atau mematangkan ide-ide yang telah dimunculkan pada tahap sebelumnya. Tahap iluminasi merupakan tahap pelahiran ide, gagasan, atau pengalaman dalam bentuk puisi. Tahap yang terakhir adalah verifikasi, yaitu kegiatan menilai puisi hasil karya sendiri.
Sebagai ujung tombak tercapainya tujuan pendidikan, guru perlu mengetahui hal-hal yang akan dicapai dan hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa. Guru juga perlu mengetahui kompetensi peserta didik melalui pembelajaran; hal yang harus dikembangkan secara maksimal serta cara penerapannya. Selain itu, guru juga perlu memperhatikan keterkaitan materi pelajaran dengan konteks kehdupan peserta didik. Oleh karena itu, seorang guru yang profesional harus mampu memiliki dan menerapkan metode atau strategi yang tepat untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
Salah satu metode belajar mengajar yang didasarkan pada kurikulum berbasis kompetensi yang diterapkan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan siswa menulis atau membuat puisi adalah metode konstruktivisme. Nurhadi (2002: 9) mengemukakan bahwa konstruktivisme (constructivism) merupakan landasan berpikir (filosof) pendekatan CTL, yakni pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep, atau kaidah yang sudah siap untuk diambil dan diingat. Pengetahuan dibangun (dikonstruksi) manusia sedikit demi sedikit yang diberi makna melalui pengalaman nyata dan hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus merekonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Dengan metode konstruktivisme ini diharapkan proses pembelajaran siswa lebih maksimal, termasuk pembelajaran membuat puisi.

Dengan dasar itu maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas (action research) dengan pendekatan kontekstual yang memfokuskan pada metode konstruktivisme oleh guru di kelas yaitu peningkatan kemampuan menulis puisi siswa kelas 1 SMA Negeri 1 Tonra, Kabupaten Bone. Selain hal tersebut, pemilihan topik penelitian oleh penulis juga didasarkan pada pertimbangan bahwa penelitian tentang penggunaan metode konstruktivisme dalam meningkatkan kemampuan membuat puisi siswa masih sangat langka.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan tersebut, maka yang menjadi masalah utama yang dikaji dalam penelitian ini adalah: Apakah penerapan metode konstruktivisme bermanfaat dalam meningkatkan kemampuan membuat puisi siswa kelas 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng? Masalah utama ini dijabarkan dalam beberapa submasalah: 1) Bagaimana penerapan metode konstruktivisme dalam meningkatkan kemampuan membuat puisi siswa kelas 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng dalam perencanaan, 2) Bagaimana penerapan metode konstruktivisme dalam meningkatkan kemampuan membuat puisi siswa kelas 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng dalam pelaksanaan, dan 3) Bagaimana penerapan metode konstruktivisme dalam meningkatkan kemampuan membuat puisi siswa kelas 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng dalam evaluasi.


C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai peneliti dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan metode konstruktivisme dalam peningkatan kemampuan membuat puisi siswa kelas 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng. Tujuan utama dalam penelitian ini dijabarkan dalam beberapa sub yakni: 1) Mendeskripsikan penerapan metode konstruktivisme dalam meningkatkan kemampuan membuat puisi siswa kelas 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng dalam tahap perencanaan, 2) Mendeskripsikan penerapan metode konstruktivisme dalam meningkatkan kemampuan membuat puisi siswa kelas 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng dalam tahap pelaksanaan, dan 3) Mendeskripsikan penerapan metode konstruktivisme dalam meningkatkan kemampuan membuat puisi siswa kelas 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng dalam tahap evaluasi.

D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi penting tentang (1) manfaat penerapan metode konstruktivisme dalam peningkatan kemampuan membuat puisi siswa kelas 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi; (2) memberikan sumbangan pemikiran kepada guru-guru mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia untuk menerapkan metode konstruktivisme dalam pembelajaran membuat puisi yang mengarah pada peningkatan kemampuan apresiatif siswa.
Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran yang berharga bagi pengembangan metodologi pengajaran sastra, pengembangan minat dan kemampuan siswa dalam mereproduksi karya sastra, serta sebagai bahan pembanding bagi penelitian pengajaran sastra yang lain.

TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan pustaka yang diuraikan dalam penelitian ini pada dasarnya dijadikan acuan untuk mendukung dan memperjelas penelitian ini. Sehubungan dengan masalah yang akan diteliti, kerangka teori yang dianggap relevan dengan penelitian ini akan diuraikan sebagai berikut.
1. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
Pembelajaran kontekstual atau contextual taeching and learning (CTL) adalah salah satu pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). CTL, merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Dalam sistem ini, strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti makna belajar, manfaat belajar, status pembelajaran, dan proses pencapaiannya. Siswa sadar bahwa hal yang dipelajarinya berguna bagi kehidupannya nanti. Dengan begitu, memposisikan diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti. Mereka mempelajari hal yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menggapainya. Dalam upaya itu, mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing.
Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas/siswa. Pengetahuan dan keterampilan datang dari ’menemukan sendiri bukan dari hal yang dikatakan oleh guru’. Demikianlah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan CTL.
Kontekstual hanyalah sebuah strategi pembelajaran. Seperti halnya pembelajaran lain, kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna. Pendekatan kontekstual dapat dijalankan tanpa harus mengubah kurikulum dan tuntunan yang ada.
Zahorik (Nurhadi, 2002: 23) mengemukakan bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia. Pengetahuan bukan seperangkat fakta dan konsep, bukan juga sesuatu yang hidup tersendiri dari seorang ahli. Manusia harus berkreasi atau membangun pengetahuan atas usaha manusia memberi makna untuk pengalamannya. Sesuatu yang diketahui harus dikonstruksikan sendiri.
Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut.



a. Proses Belajar
Dalam proses belajar, hal yang harus diperhatikan adalah:
1) belajar tidak hanya sekedar menghapal, siswa harus mengonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri;
2) anak belajar dari mengalami, anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru dan bukan diberi begitu saja oleh guru;
3) para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang ini terorganisasi dan mencermikan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan;
4) pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan;
5) manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi yang baru;
6) siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide;
7) proses belajar dapat mengubah struktur otak yang berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang. Untuk itu perlu dipahami, strategi belajar yang salah dan terus menerus dipanjangkan, akan memengaruhi struktur otak yang ada pada akhirnya memengaruhi cara seseorang berperilaku.



b. Transfer Belajar
Dalam transfer belajar hal yang harus diperhatikan adalah :
1) siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain;
2) keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sempit) secara sedikit demi sedikit;
3) sangat penting diketahui oleh siswa ”untuk apa ia belajar” dan ”bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu”.
c. Siswa sebagai Pembelajar
Hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan keberadaan siswa sebagai pembelajar adalah:
1) manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu dan seorang anak mempunyai kecenderungan belajar dengan cepat tentang hal-hal yang baru;
2) strategi belajar itu penting agar anak dapat mempelajari sesuatu yang baru;
3) peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara yang baru dan yang sudah diketahui;
4) tugas guru memfasilitasi: agar informasi baru bermakna, guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan nenerapkam ide mereka sendiri dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri.



d. Pentingnya Lingkungan Belajar
Sehubungan dengan lingkungan belajar, hal yang harus diperhatikan adalah:
1) belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa, dari ”guru acting di depan kelas, siswa menonton” ke ”siswa acting, bekerja, dan berkarya, guru mengarahkan”;
2) pengajaran harus berpusat pada ”bagaimana cara” siswa menambah pengetahuan baru mereka, strategi belajar lebih dipentingkan daripada hasilnya;
3) umpan balik amat penting bagi siswa yang berasal dari proses penialaiannya (assessment) yang benar;
4) menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.
Lebih lanjut, Zahorik (Nurhadi, 2002: 6) mengemukakan bahwa ada lima elemen yang harus diperhatikan dalam praktik pembelajaran kontekstual, yaitu:
a. pegaktifan pengetahuan yang sudah ada;
b. pemerolehan pengetahuan baru dengan cara mempelajari secara keseluruhan dahulu, lemudian memperhatikan detailnya;
c. pemahaman pengetahuan, yakni dengan cara menyusun hipotesis, tukar pendapat dengan orang lain, merevisi dan mengembangkan konsep;
d. mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut;
e. melakukan refleksi terhadap pengembangan pengetahuan tersebut.
Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama, yakni konstruktivisme (constructivism), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), bertanya (questioning), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment).

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Berdasarkan judul penelitian ini, yakni Penerapan Mtode Konstruktivisme Dalam Peningkatan Kemampuan Membuat Puisi Siswa Kelas 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng, maka penelitian ini digolngkan ke dalam penelitian tindakan kelas. Penelitian tindalan kelas ini dilakukan untuk menggambarkan dan mengamati proses belajar siswa kelas 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng melalui penerapan metode konstruktivisme dalam menulis puisi oleh guru di kelas. Mekanisme pelaksanaannya dengan dua siklus. Setiap siklus masing-masing dilaksanakan dengan tiga tahap yaitu: tahap (1) perencanaan, (2) tindakan dan pengamatan, dan (3) refleksi. Penelitian tindakan kelas ni merupakan salah satu upaya untuk memperbaiki praktik pembelajaran agar lebih bermanfaat. dengan demikian, guru dapat mengetahui secara jelas masalah-masalah yang ada di kelas dan bagaimana mengatasi masalah tersebut.
B. Data dan Sumber Data
1. Data
Data dalam penelitian ini adalah tes dan data perilaku. data tes diperoleh dari hasil tugas membuat puisi dengan kategori: (1) tema puisi, (2) nada, (3) amanat, (4) isi puisi, (5) penggunaan bahasa figuratif, (6) diksi, dan (7) kata konkret, serta dari hasil tes kemampuan siswa menjawab setiap pertanyaan yang diberikan oleh guru pada saat proses belajar mengajar. Data perilaku diperoleh pada saat siswa melakukan aktivitas-aktivitas proses pembelajaran melalui penerapan metode konstruktivisme di kelas.
2. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah aktivitas guru dan siswa di kelas pada saat melakukan kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan metode konstruktivisme dalam pembelajaran puisi.
C. Teknik Pengumpulan Data
1. Observasi
Teknik observasi dilakukan untuk merekam semua aktivitas yang dilakukan oleh siswa dan guru pada saat pembelajaran berlangsung.
2. Wawancara
Teknik wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai ketercapaian tujuan dari penerapan metode konstruktivisme.
3. Teknik pencatatan
Semua kegiatan pada saat menerapkan metode konstruktivisme dalam membuat puisi dicatat oleh peneliti.
4. Tes
Siswa ditugaskan untuk membuat puisi.
D. Teknik Analisis Data
data tes dianalisis dengan menggunakan teknik penugasan dan tanya jawab pada saat proses kegiatan belajar mengajar berlangsung.

Tidak ada komentar: