VARIASI RAGAM BAHASA
Variasi-variasi bahasa dapat dilihat dari dua segi, yakni dari segi diakronis dan segi sinkronis.
►Segi diakronis yaitu berdasarkan tahap-tahap perkembangan bahasa Indonesia dari waktu ke waktu.
► Segi Sinkronis yaitu variasi-variasi bahasa dilihat dari dimensi daerah (geografis), dimensi sosial ( sosialek), dimensi psikis dan fisik penutur, dimensi kebutuhan, dan dimensi menyangkut pembicara, tempat berbicara, bidang pembicaraan, suasana/situasi pembicaraan.
1. Dialek Geografis (dialek regional)
yaitu variasi-variasi bahasa yang timbul karena perbedaan asal penuturnya.
2. Dialek Sosial (sosialek)
yaitu variasi-variasi bahasa yang disebabkan oleh perbedaan kelas sosial penuturnya.
3. Idiolek
yaitu variasi-variasi bahasa yang timbul karena faktor fisik maupun psikis yang dimiliki oleh penutur.
4. Register
yaitu variasi-variasi bahasa yang disebabkan oleh kebutuhan pemakaian yang berbeda-beda. Misalnya bahasa berita, bahasa ulasan atau tajuk rencana, dan bahasa iklan.
5. Ragam Bahasa
yaitu variasi-variasi bahasa yang disebabkan oleh perbedaan-perbedaan dari segi pembicara, tempat berbicara, pokok atau bidang pembicaran, suasana/situasi pembicaraan.
► Jenis-jenis Ragam Bahasa Indonesia
1. Ragam Ringkas dan Ragam Lengkap
2. Ragam Baku dan Ragam Nonbaku
Ragam
Ragam
Ragam nonbaku selalu ada kecenderungan untuk menyalahi norma/kaidah bahasa yang berlaku. Hal ini disebabkan ragam bahasa nonbaku lebih cenderung mementingkan fungsi komunikasinya dalam suasana santai daripada mementingkan kebenaran pemakaian kaidah bahasa. Sementara itu, dalam suasana resmi selain fungsi komunikasi juga dipentingkan kebenaran kaidahnya.
3. Ragam Lisan dan Ragam Tulisan
Kesatuan dasar ragam lisan adalah bunyi bahasa sedangkan kesatuan dasar ragam tulisan adalah huruf.
4. Ragam Pandangan Penutur
Ragam bahasa dilihat dari sudut pandangan penutur adalah:
a. Daerah/Logat
Logat daearah paling kentara karena tata bunyinya. Misalnya logat Tapanuli (tekanan kata yang amat jelas); logat Bali (bunyi /t/); logat Jawa (bunyi /d/).
b. Pendidikan
Tata bunyi bahasa Indonesia (fonologi) golongan kaum berpendidikan berbeda dengan kaum yang tidak berpendidikan. Misalnya bunyi /f/ dan gugus konsonan /ks/, tidak selalu terdapat dalam ujaran orang yang tidak atau hampir tidak bersekolah. Bentuk fakultas, film, fitnah, kompleks, rileks, maksimum, diucapkan pakultas, pilem, pitenah, komplek, riles, massimum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar