Yang Pop dan Uptodate

Rabu, 12 Agustus 2009

STRATEGI PEMBELAJARAN


STRATEGI PAKEM DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA
Oleh: Muhammad Arifai, S.Pd

A. Pendahuluan
Tidak dapat dipungkiri bahwa kita yang hidup di tengah-tengah arus teknologi informasi yang dahsyat dituntut untuk dapat membaca dan menyerap informasi yang setiap hari menyerbu kita. Berpuluh-puluh koran dan majalah tidak pernah jemu-jemu menyodorkan informasi untuk dibaca. Bahkan dengan kemajuan teknologi informasi sekarang ini, melalui internet kita sudah dapat mengakses informasi dari berbagai belahan dunia dalam waktu singkat tanpa harus meninggalkan tempat duduk kita. Semua kegiatan tersebut tentu memerlukan kegiatan membaca, seperti membaca cepat.
Harras dan Lilis, S. (2003 : 1) mengemukakan bahwa membaca menduduki posisi serta peran yang sangat penting dalam konteks kehidupan umat manusia, terlebih pada era informasi dan komunikasi seperti sekarang ini. Membaca juga merupakan jembatan bagi siapa saja dan di mana saja yang berkeinginan meraih kemajuan dan kesuksesan, baik di lingkungan dunia persekolahan maupun di dunia pekerjaan. Oleh karena itu, para pakar sepakat bahwa kemahiran membaca merupakan prasyarat mutlak bagi setiap insan yang ingin beroleh kemajuan.
Kegiatan membaca merupakan kegiatan berkomunikasi yang penting dan harus dikuasai oleh setiap siswa. Kegiatan membaca setiap hari digunakan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), terdapat materi pembelajaran membaca cepat pada setiap tingkatan atau kelas. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan membaca cepat merupakan kegiatan membaca yang perlu dan penting dikuasai oleh setiap siswa. Namun, terkadang guru menyajikan pembelajaran membaca cepat tanpa memperhatikan aspek kreatif, efektif, dan menyenangkan. Akibatnya, siswa merasa jenuh mengikuti kegiatan pembelajaran dan pembelajaran pun berlangsung tanpa menghasilkan tujuan yang ingin dicapai. Pembelajaran membaca cepat dikatakan berhasil apabila siswa dapat membaca 300 – 350 kata per menit (Kpm) dan memahami isi bacaan yang berupa : mampu menemukan ide pokok setiap paragraf, menemukan informasi tertentu, dan menjawab pertanyaan bacaan dengan benar minimal 75 %. Untuk itu, perlu diupayakan strategi pembelajaran membaca cepat yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan guna mencapai tujuan tersebut.
Kata kunci: Strategi Pakem dalam pembelajaran membaca.


B. Pengertian Strategi dan PAKEM
Kata strategi menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus. Sedangkan Pakem berarti Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan.
Menurut Pusat Pengembangan Sekolah Efektif (P2SE) UNM (2007), kata aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan memiliki pengertian yaitu: aktif, maksudnya guru aktif memantau kegitan belajar siswa, memberi umpan balik, mengajukan pertanyaan terbuka, dan menanyakan gagasan siswa. Sedangkan bagi siswa kata ”aktif” itu bermakna mengajukan perertanyaan, mengemukakan gagasan, mempertanyakan gagasan orang lain, terlibat secara mental, dan melakukan percobaan.
kreatif, maksudnya guru mengembangkan kegiatan yang beragam, memberi tugas yang bervariasi, menerapkan teknik curah pendapat, dan mengembangkan berpikir divergent. Sedangkan untuk siswa, kata ”kreatif” berarti siswa merancang sesuatu, membuat karya, menulis gagasan, mengarang, dan menemukan sendiri.
Selanjutnya, kata efektif bagi guru adalah mencapai tujuan pembelajaran dan memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM). Untuk siswa, kata ”efektif” dimaksudkan menguasai kompetensi dasar dan menguasai keterampilan yang diperlukan. Kata menyenangkan untuk guru, berarti tidak membuat anak atau siswa takut salah, takut ditertawakan, takut disepelekan, dan menciptakan suasana yang kondusif yaitu hidup, hangat, dan menghargai. Sedangkan untuk siswa, kata ”menyenangkan” berarti berani mencoba, berani bertanya, berani mengemukakan pendapat, berani berbeda pendapat, dan bergairah mengikuti kegiatan belajar.
Berdasarkan uraian tersebut dapat dikatakan bahwa kegiatan pembelajaran aktif jika dalam kegiatan pembelajaran tersebut, siswa bertindak sebagai subjek dan guru hanya bertindak sebagai fasilitator. Dikatakan kreatif jika dalam kegiatan pembelajaran terdapat hal-hal baru yang diciptakan oleh guru yang menjadikan siswa lebih mudah menyerap materi pembelajaran yang disajikan. Sedangkan efektif berarti hasil yang dicapai dalam kegiatan pembelajaran tersebut sesuai dengan yang diinginkan atau diharapkan yakni mencapai ketuntasan, dan menyenangkan yang berarti siswa merasa senang dan tidak takut-takut dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Untuk menghasilkan kegiatan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, dalam kegiatan pembelajaran seperti membaca cepat, perlu dilakukan perencanaan yang cermat dengan memperhatikan maksud dari setiap kata yang membentuk akronim Pakem tersebut.


C. Strategi PAKEM dalam Pembelajaran Membaca

Silitonga,dkk. (1984: 8) mengemukakan bahwa keberhasilan pengajaran membaca ditentukan oleh dua faktor dominan yaitu: (1) faktor dari dalam diri siswa sendiri seperti minat, perhatian, kematangan siswa, dan sikap sosial; (2) faktor dari luar siswa seperti lingkungan sekitarnya, situasi, kondisi sosial, ekonomi, keluarga, kondisi sekolah, dan kondisi program pengajaran membaca.
Berdasarkan hal itulah maka dalam pembelajaran membaca di sekolah seharusnya guru memperhatikan kedua faktor tersebut seperti minat dan perhatian siswa, serta kondisi program pengajaran membaca. Salah satu upaya ke arah pemenuhan faktor-faktor tersebut adalah menerapkan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM). Pembelajaran membaca cepat yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. menuliskan kompetensi dasar (KD) yang akan dicapai beserta indikatornya.
2. membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil (satu kelompok dua orang).
3. menugaskan kepada setiap kelompok untuk mencari bacaan di internet.
4. menuliskan petunjuk penelusuran melalui Internet dengan cara:
a. menuliskan alamat situs web pada address bar Serch Engine.
Misalnya:
http://www.google.com;
http://iteslj.org/links;
b. Menuliskan kata kunci pada bagian pencarian search engine.
Misalnya: Teks Perkembangan Iptek.
5. menyediakan stopwatch (HP yang memiliki stopwatch) bagi setiap kelompok untuk digunakan mengukur waktu membaca teks di internet.
6. setiap kelompok mencatat waktu baca anggota kelompoknya secara bergantian dengan diawasi oleh guru mata pelajaran.
7. mencatat atau menulis ide pokok setiap paragraf yang dibaca.
8. membuat pertanyaan tentang isi teks yang dibaca.
9. menyimpulkan isi teks yang dibaca.
10. menyampaikan di depan kelas hasil pekerjaan tersebut untuk ditanggapi oleh siswa (kelompok) lainnya.
Dengan penerapan langkah-langkah yang disebutkan di atas dalam pembelajaran membaca seperti membaca cepat, siswa akan aktif menemukan sendiri teks bacaan yang disenanginya, aktif membaca dan menemukan ide pokok dan intisari bacaan. Selain itu, siswa juga memiliki kreativitas menemukan bacaan dan mendownload teks bacaan dari internet.


D. Simpulan dan Saran
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan pembelajaran aktif jika dalam kegiatan pembelajaran tersebut, siswa bertindak sebagai subjek dan guru hanya bertindak sebagai fasilitator. Dikatakan kreatif jika dalam kegiatan pembelajaran terdapat hal-hal baru yang diciptakan oleh guru yang menjadikan siswa lebih mudah menyerap materi pembelajaran yang disajikan. Sedangkan efektif berarti hasil yang dicapai dalam kegiatan pembelajaran tersebut sesuai dengan yang diinginkan atau diharapkan yakni mencapai ketuntasan, dan menyenangkan yang berarti siswa merasa senang dan tidak takut-takut dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Pembelajaran membaca cepat yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. menuliskan kompetensi dasar (KD) yang akan dicapai beserta indikatornya.
2. membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil (satu kelompok dua orang).
3. menugaskan kepada setiap kelompok untuk mencari bacaan di internet.
4. menuliskan petunjuk penelusuran melalui Internet dengan cara:
a. menuliskan alamat situs web pada address bar Serch Engine.
Misalnya:
http://www.google.com;
http://iteslj.org/links;
b. Menuliskan kata kunci pada bagian pencarian search engine.
Misalnya: Teks Perkembangan Iptek.
5. menyediakan stopwatch (HP yang memiliki stopwatch) bagi setiap kelompok untuk digunakan mengukur waktu membaca teks di internet.
6. setiap kelompok mencatat waktu baca anggota kelompoknya secara bergantian dengan diawasi oleh guru mata pelajaran.
7. mencatat atau menulis ide pokok setiap paragraf yang dibaca.
8. membuat pertanyaan tentang isi teks yang dibaca.
9. menyimpulkan isi teks yang dibaca.
10. menyampaikan di depan kelas hasil pekerjaan tersebut untuk ditanggapi oleh siswa (kelompok) lainnya.
Berdasarkan simpulan di atas disarankan kepada setiap rekan guru untuk senantiasa mengupayakan pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (Pakem). Kegiatan pembelajaran yang Pakem dapat diterapkan pada semua materi pembelajaran. Oleh karena itu, ada baiknya setiap guru mata pelajaran berusaha menciptakan kegiatan pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan atraktif sehingga siswa akan senantiasa termotivasi mengikuti kegiatan pembelajaran yang kita laksanakan.

Daftar Pustaka
Harras, K.A. dan Lilis Sulistianingsih, 2003. Materi Pokok Membaca 1.
Jakarta : Universitas Terbuka.
P2SE. 2007. Pelaksanaan PAKEM di Sekolah. Makassar: UNM Makassar.
Salam. 2007. Keterampilan Menulis. Bahan Ajar. Makassar: FBS UNM.
Silitonga,M.,dkk., 1984. Kemampuan Berbahasa Indonesia Siswa Kelas III
SMP Sumatra Utara : Membaca dan Menulis. Jakarta : Depdikbud.
Soedarso, 2004. Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta : PT Gramedia




MODEL PEMBELAJARAN


MENDONGENG SEBAGAI MODEL PEMBELAJARAN APSI
Oleh: Muhammad Arifai, S.Pd
Guru SMA Negeri 1 Watansoppeng


A. Pendahuluan
Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang berlangsung dengan mudah dan menarik bagi siswa sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan baik dan mudah. Untuk menghasilkan pembelajaran yang efektif diperlukan berbagai cara atau model yang tepat dan menarik. Salah satu model pembelajaran yang dimaksud adalah mendongeng. Mendongeng merupakan kegiatan menyampaikan cerita atau dongeng kepada siswa. Melalui dongeng, siswa dapat belajar menentukan unsur yang membangun sebuah sastra misalnya: alur, watak, atau tema cerita.
Dalam dunia sastra Indonesia, terdapat berbagai jenis hasil karya sastra lama yang masih tetap eksis sampai sekarang. Salah satunya adalah dongeng. Dongeng adalah salah satu hasil karya sastra Indonesia yang berbentuk prosa, seperti roman, novel, dan cerpen. Dalam dongeng terdapat berbagai pelaku yang dikisahkan memiliki watak atau karakter tertentu. Misalnya dongeng tentang si Kancil dan Buaya, Pelanduk yang Cerdik atau dongeng Pak Belalang. Dongeng tersebut bersifat menghibur dan dapat memberi pendidikan, terutama pendidikan moral kepada anak didik. Dengan demikian, tepatlah kiranya jika mendongeng dijadikan sebagai model pembelajaran dalam kegiatan pembelajaran sastra Indonesia di sekolah.
Kata kunci: mendongeng, model pembelajaran sastra Indonesia.


B. Dongeng dan Sastra Indonesia
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dongeng ialah cerita yang tidak benar-benar terjadi. Ia adalah cerita rekaan yang kebenarannya belum dapat dipastikan. Sedangkan menurut James Dananjaja dalam Folklor Indonesia bahwa dongeng termasuk jenis cerita pendek kolektif kesastraan lama. Dananjaja berpendapat kalau sebuah dongeng itu tidak dianggap benar-benar terjadi. Dongeng hanya diceritakan untuk menghibur. Pendapat yang senada juga dikemukakan oleh Wiyanto (2005: 58) yakni dongeng adalah cerita khayal yang tidak masuk akal. Cerita dalam dongeng tidak pernah terjadi dan tidak mungkin terjadi.
Berdasarkan isinya, dongeng dapat diklasifikasikan menjadi: (1) Cerita binatang (fabel), yaitu dongeng yang mengisahkan tentang binatang yang dapat berbicara, bisa berpikir, punya cita-cita, seperti manusia. Dengan kata lain, binatang itu sebenarnya cerita tentang kehidupan manusia yang tokoh-tokohnya binatang. (2) Cerita jenaka, yaitu dongeng yang berisi cerita yang dapat menggelitik karena lucu. Tokoh yang diceritakan orang bodoh atau bloon, orang malas, atau orang cerdik seperti si Kabayan. (3) Legenda, yaitu dongeng yang berkaitan dengan nama suatu tempat (kota, gunung, sungai, dan lain-lain). Ceritanya dicari-cari yang pada akhirnya menjadi sebab munculnya nama tempat yang diceritakan itu. Misalnya dongeng tentang asal mula nama Banyuwangi, Gunung Pattiro Sompe, asal mula Ompo, dan sebagainya. (4) Mite, yaitu dongeng yang mengisahkan tentang dewa-dewa, makhluk halus, dan hal-hal gaib lainnya yang berhubungan dengan kepercayaan masyarakat tempat cerita itu berkembang. Misalnya ceirta tentang Nyi Roro Kidul (Ratu Laut Selatan), dan Pertempuran di Prambanan dan Letusan Gunung Merapi. (5) Sage, adalah dongeng yang mengandung unsur sejarah. Akan tetapi, unsur sejarahnya amat sedikit jika dibandingkan dengan tambahannya yang bersifat aneh, luar biasa, dan dahsyat. Sering pula ceritanya mengandung unsur kepahlawanan. Misalnya: Pararaton (menceritakan Ken Arok), dan Tutur Tinular (menceritakan pahlawan Majapahit). (6) Parabel, adalah dongeng perumpamaan yang biasanya berisi unsur pendidikan tentang kesusilaan atau keagamaan. Misalnya dongeng ”Damarwulan”, dan ”Cerita Sepasang Selop Putih”.
Dongeng merupakan salah satu hasil karya sastra Indonesia yang tidak hanya berfungsi untuk menghibur tetapi juga dapat berfungsi untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan kepada siswa melalui kegiatan pembelajaran di sekolah.


C. Mendongeng sebagai Model Pembelajaran Apresiasi Sastra Indonesia (Apsi)
Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, seringkali guru dihadapkan pada situasi sulit untuk menjadikan siswa mudah mengerti atau memahami materi yang disajikan. Begitu pula halnya dalam pembelajaran sastra Indonesia utamanya pada kompetensi dasar menentukan unsur intrinsik dan ekstrinsik karya sastra. Pada situasi seperti itulah dibutuhkan model pembelajaran yang efektif dan menarik sehingga siswa tidak hanya dapat tertarik mengikuti pembelajaran tetapi juga dapat dengan mudah memahami materi pembelajaran yang disajikan.Untuk mengatasi hal tersebut, salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru adalah mendongeng.
Mendongeng merupakan model pembelajaran yang efektif dan menarik digunakan dalam pembelajaran sastra seperti menentukan unsur intrinsik novel atau cerpen. Melalui dongeng yang disampaikan oleh guru, siswa akan dengan mudah memahami unsur intrinsik sastra seperti alur atau jalan cerita, penokohan atau watak pelaku, latar atau tempat kejadian cerita, amanat atau pesan yang terdapat dalam cerita tersebut, tema cerita, dan gaya bahasa yang digunakan. Selain itu, siswa juga akan mudah mengenal nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah karya sastra seperti nilai pendidikan, moral, sosial, dan sebagainya.
Guru dapat memilih berbagai jenis dongeng untuk diceritakan kepada siswa di depan kelas. Misalnya dongeng ” Si Kancil dan Buaya” atau ”Pak Belalang”. Dongeng tersebut berisi kisah yang menarik dan lucu dan mudah dipahami oleh siswa. Apalagi jika dibawakan dengan bahasa atau intonasi yang bervariasi disertai dengan gambar visual atau boneka. Dengan demikian, siswa akan tertarik mengikuti kegitan pembelajaran dan tidak mudah mengantuk. Meskipun ada sindiran yang disampaikan melalui dongeng, siswa tidak langsung merasa disindir. Bahkan, siswa diminta menilai sendiri sebuah kebenaran atau pendidikan dalam dongeng yang diperdengarkan, seperti pada dongeng “Sampuraga” yang berkisah tentang si anak durhaka. Durhaka kepada orang tua akan mendatangkan malapetaka, merupakan pesan moral yang ingin disampaikan kepada siswa.

D. Simpulan dan Saran
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dongeng dapat dijadikan media pembelajaran apresiasi sastra Indonesia. Mendongeng merupakan model pembelajaran yang efektif dan menarik digunakan dalam menyajikan materi pembelajaran sastra Indonesia di kelas. Melalui kegiatan mendongeng, siswa akan mudah memahami unsur intrinsik sastra seperti tema, alur, latar, penokohan, amanat, sudut pandang, dan gaya bahasa. Juga unsur ekstrinsik sastra, yaitu nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah karya sastra seperti nilai pendidikan, moral, sosial, atau keagamaan.
Untuk itulah, disarankan kepada rekan-rekan guru agar senantiasa berupaya menggunakan model pembelajaran yang efektif dan menarik atau menyenangkan dalam setiap kegiatan pembelajaran, demi meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa di sekolah.
Daftar Pustaka
Depdikbud, 1995. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Herman. Mendongeng sebagai Metode Pembelajaran. Suara Tinta. Edisi 12 Juli 2007
http://www.vanillamist.com/.
Tang, Muhammad Rapi, 2004. Apresiasi Puisi, Prosa Fiksi, dan Drama Indonesia : Suatu Tinjauan Umum. Makassar : Universitas Negeri Makassar.
Wiyanto, Asul. 2005. Kesusastraan Sekolah. Jakarta: PT Grasindo.


Kamis, 06 Agustus 2009

PUISIKU



HUJAN, ANGIN DAN BADAI
Karya: M. Arifai, S.Pd
(Guru SMA N 1 Watansoppeng)
Aku adalah hujan yang senantiasa mengguyur
menumbuhkan tunas-tunas muda harapan bangsa.
Aku adalah angin yang akan menerbangkan tirai penghalang
yang menyelubungi hati dan jiwamu
agar cahaya kemuliaan menyinari pekatnya pikiranmu.
Aku adalah badai yang siap mengangkat sosokmu
menembus gelapnya mega, melintasi samudra biru
menuju tempat terhormat seperti yang kamu impikan.
Akulah hujan, angin dan badai
berkelana di gurun-gurun sahara
menyelinap di antara pepohonan dalam rimba raya
berenang di sela-sela ombak pasifik
mengumpulkan pernak-pernik kehidupan
menggulung intisari peradaban
meramu dalam satu aliran
mengalir di antara denyut nadimu
Yang tak pernah berhenti berdetak
mengiringi langkah dalam jejak
memahami makna setiap semester waktu
merangkum dalam setiap kisaran masa
yang kadang meninggalkan sejumlah teka-teki.







AKHIR SEBUAH TEKA-TEKI
Karya: M. Arifai, S.Pd
(Guru SMA N 1 Watansoppeng)
Mendung yang menggantung
adalah lukisan perasaan kami
Guruh yang menggemuruh
adalah suara hati kami
Gerimis yang menetes
adalah ungkapan hati perasaan kami dalam sebuah teka-teki.
angin yang beku
dedaunan yang kaku
mulut yang membisu
terpasung oleh ragu
dalam pusaran waktu
karena sebuah teka-teki yang mengharu biru.
Mendung yang menggantung itu teka-teki
guruh yang menggemuruh itu teka-teki
gerimis yang menetes adalah jawaban teka-teki.
Manusia yang membuat pemimpin dan ikut dipimpin menyimpan teka-teki
hendak ke mana, ada di mana, dan di kemanakan
adalah teka-teki yang datang dan perginya tak terkirakan
seperti teka-teki yang selalu mencari jawaban
begitulah takdir yang sulit menemukan jawaban.








Kesatria Pendidik
Karya: M. Arifai, S.Pd
(Guru SMA N 1 Watanoppeng)

Anak-anakku,
bila esok engkau pergi dan melewati jalan yang sama
Tengoklah ke gedung sekolah disudut jalan yang andal nan unggul itu
di situlah pernah mengabdi seorang kesatria pendidik selama 29 tahun
menabur benih-benih prestasi di hati anak-anak harapan bangsa
menyemai bibit-bibit unggul pelanjut masa depan bangsa
menumbuhkan tunas-tunas muda mencapai masa depan yang gemilang.

Tapi anak-anakku,
jangan heran kalau gedung sekolah itu kini tidak semeriah dulu lagi
kesatria pendidik itu kini tak ada lagi di gedung itu
ia kini telah mengabdi di tempat lain yang jauh dari kita
Jangan ditanya mengapa, anak-anakku,
juga jangan meringis dan mengeluarkan nada penyesalan.
Beliau pergi bukan karena tak sayang lagi pada kita
Beliau menjauh dari kita juga bukan karena perasaan benci
Beliau tinggalkan kita karena sebuah tugas mulia
untuk melanjutkan menabur benih-benih prestasi di hati anak-anak bangsa
menyemaikan bibit-bibit unggul generasi pelanjut
menumbuhkan tunas-tunas muda yang unggul dalam mutu, berbudaya, dan berimtak.

Anak-anakku mestinya bersyukur
karena beliau yang selama ini kita banggakan
yang telah banyak memberikan kebaikan pada kita
masih lebih dibutuhkan tenaga dan pikirannya di tempat lain
yang penting bagi kita anak-anakku,
janganlah pernah lupa pesan beliau untuk tetap bersemangat
belajar, belajar, dan belajar.
Beliau memang telah jauh dari kita
tapi canda tawanya masih tetap terngian di telinga
teguran kasih sayangnya tetap membekas di hati
kebijakan-kebijakannya tetap terasa, hingga kita pun merasa...
jauh di mata dekat di hati.

LURUH DALAM DOA
Karya: M. Arifai, S.Pd
(Guru SMA N 1 Watansoppeng)

Masa demi masa digubah dalam untaian waktu dan cita
Jenjang demi jenjang telah terlampaui dengan pasti
Tiga masa dalam jenjang yang kian meningkat
Mampukah mengikat asa dalam cita dan cinta
Dalam dekapan maya terbersit angan yang mewujud
Menggelora dalam samudra kalbu
Menyeruak di antara karang-karang angkuh
Membentuk butiran-butiran nurani yang luruh dalam doa
untuk Bapak – Ibu pendidik kami
Ya Rahman, ya Rahim, ya Karim
Anugerahkanlah kepada para pendidik kami kearifan
agar senantiasa mendidik kami dalam kesalehan
Berikanlah mereka petunjuk-Mu
dalam mendidik kami menjadi penerus cita-cita bangsa
Ya Qawiyyu, Ya Waliyu
Karuniakanlah kekuatan kepada para pengasuh kami
agar mereka tetap mengasuh, mengasah, dan mengasihi kami
meski kadang kami berperilaku menjengkelkan mereka
Jauhkanlah segala gangguan dari mereka
hingga mereka selalu menjalankan tugas pengabdiannya
mengurusi kami setiap saat setiap waktu
meski mereka terkadang tak terurus dan diurus
Berilah kesempatan kepada kami untuk berbakti
menunjukkan kepada mereka, kepada bangsa dan negara kami
bahwa mereka tidak sia-sia mendidik dan mengurus kami selama ini
mampukanlah kami membalas budi baik mereka
hingga mereka tak lagi harus berpeluh dan berselimut debu jalanan
Ya gaffaru, Ya gofur
Ampunilah segala dosa mereka
Ampunilah juga dosa-dosa kami yang teramat sangat
memenuhi otak dan pikiran kami
hingga membuat kami jadi pembangkang, pemberang, dan penentang
Karena izin-Mulah kami ada
dan atas iradah-Mu kami menjadi tiada
Jadikanlah keberadaan kami kebahagiaan bagi mereka
dan ketiadaan kami sebagai kenangan yang membanggakan isi dunia.






Bulan Masih Penuh
Ketika malam terlelap di pangkuan rembulan
Bintang memainkan simponi dengan cahaya
Awan tak kuasa melawan kehendak angin
Berdansa dan menari kian kemari.
Sesosok bayangan tak bergerak memandangi bulan

bulan itu masih penuh
seperti dulu kala sosok itu duduk memandanginya
dari balai-balai bambu teras rumahnya yang beratap cahaya bulan
ketika anak istrinya terlelap bersama malam. Dan seperti dulu
ia menggenggam catatan kredit dari koperasi tempatnya mengabdi
yang terjatuh dari lembaran silabus
Ketika hendak melihat kompetensi yang hendak diajarkan esok hari.

Bulan masih penuh
Tak seperti kantongku yang bolong sejak kemarin. Ah… tak mengapa.
Esok aku harus mengajarkan materi ini lalu mengejar materi lain
seperti awan yang tak pernah jemu mengejar sang bulan.
(M. Arifai, S.Pd, Maret 2009)








Rabu, 05 Agustus 2009



PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI
DALAM PENGEMBANGAN BAHAN AJAR
Oleh: Muhammad Arifai, S.Pd
(Guru SMA Negeri 1 Watansoppeng)


A. Pendahuluan
Perkembangan teknologi saat ini telah memberikan banyak kemudahan bagi manusia. Salah satunya adalah teknologi informasi. Kemajuan teknologi informasi telah memberikan kemudahan kepada manusia dalam berkomunikasi. Selain itu, kemajuan teknologi informasi juga memberikan kemudahan kepada manusia dalam menerima informasi atau berita dari berbagai penjuru dunia melalui internet.
Kemajuan teknologi informasi tersebut sebaiknya juga dimanfaatkan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Dengan teknologi informasi, guru dapat menyusun atau mengembangkan bahan ajar yang lebih lengkap dan menarik bagi siswa. Kegiatan pembelajaran di kelas akan lebih hidup dendan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi yang telah memberikan banyak kemudahan bagi umat manusia.
Namun, kemudahan yang disediakan oleh kemajuan teknologi informasi rupanya belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan oleh guru-guru dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Masih banyak guru yang melaksanakan kegiatan pembelajaran menggunakan cara konvensional atau tradisional dengan mengandalkan metode ceramah atau penugasan. Bahan ajar yang digunakan masih berpedoman pada buku paket atau cetak yang monoton. Padahal, sebenarnya bahan ajar itu dapat pula diambil dari TV, Film, atau internet, lalu disajikan melalui laptop dan LCD proyektor. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi informasi dalam pengembangan bahan ajar, perlu dipahami oleh setiap guru.
Kata kunci: pemanfaatan teknologi informasi, pengembangan bahan ajar

B. Teknologi Informasi di Bidang Pendidikan
Sejarah teknologi informasi (TI) dan internet tidak dapat dilepaskan dari bidang pendidikan. Internet di Amerika mulai tumbuh dari lingkungan akademis (NSFNET), seperti diceritakan dalam buku “Nerds 2.0.1”. Demikian pula Internet di Indonesia mulai tumbuh dilingkungan akademis (di UI dan ITB), meskipun cerita yang seru justru muncul di bidang bisnis. Hal ini berarti perlu diperbanyak cerita tentang manfaat internet di bidang pendidikan. Adanya Internet membuka sumber informasi yang tadinya susah diakses. Akses terhadap sumber informasi bukan menjadi masalah lagi. Perpustakaan merupakan salah satu sumber informasi yang mahal harganya. (Berapa banyak perpustakaan di Indonesia, dan bagaimana kualitasnya?.) Adanya internet memungkinkan seseorang di Indonesia untuk mengakses perpustakaan di Amerika Serikat. Mekanisme akses perpustakaan dapat dilakukan dengan menggunakan program khusus (biasanya menggunakan standar Z39.50, seperti WAIS[5]), aplikasi telnet (seperti pada aplikasi hytelnet[6]) atau melalui web browser (Netscape dan Internet Explorer). Sudah banyak cerita tentang pertolongan internet dalam penelitian, tugas akhir. Tukar menukar informasi atau tanya jawab dengan pakar dapat dilakukan melalui Internet.
Kerjasama antarguru dan siswa yang letaknya berjauhan secara fisik dapat dilakukan dengan lebih mudah. Dahulu, seseorang harus berkelana atau berjalan jauh untuk menemui sang guru untuk mendiskusikan sebuah masalah. Saat ini hal tersebut dapat dilakukan dari rumah dengan mengirimkan email. Makalah dan penelitian dapat dilakukan dengan saling tukar menukar data melalui internet, via email, atau pun dengan menggunakan mekanisme file sharring. Bayangkan apabila seorang siswa di Papua dapat berdiskusi masalah fisika atau mata pelajaran lainnya dengan seorang pakar di universitas terkemuka di pulau Jawa. Siswa dimanapun di Indonesia dapat mengakses pakar atau guru yang terbaik di Indonesia dan bahkan di dunia. Batasan geografis bukan menjadi masalah lagi.
Distance learning dan virtual university merupakan sebuah aplikasi baru bagi internet. Bahkan tidak kurang pakar ekonomi Peter Drucker mengatakan bahwa “Triggered by the Internet, continuing adult education may wll become our greatest growth industry”. (Lihat artikel majalah Forbes 15 Mei 2000.) Virtual university memiliki karakteristik yang scalable, yaitu dapat menyediakan pendidikan yang diakses oleh orang banyak. Jika pendidikan hanya dilakukan dalam kelas biasa, berapa jumlah orang yang dapat ikut serta dalam satu kelas? Jumlah peserta mungkin hanya dapat diisi 30 orang. Virtual university dapat diakses oleh siapa saja dan dari mana saja.
Bagi Indonesia, manfaat-manfaat yang disebutkan di atas sudah dapat menjadi alasan yang kuat untuk menjadikan Internet sebagai infrastruktur bidang pendidikan. Inisiaif-inisiatif penggunaan TI dan internet di bidang pendidikan di Indonesia sudah mulai bermunculan. Salah satu inisiatif yang sekarang sedang giat dilakukan adalah program “Sekolah Cerdas Indonesia”, dimana ditargetkan sejumlah sekolah (khususnya SMU dan SMK) terhubung ke Internet. (Informasi mengenai program Sekolah Cerdas ini dapat diperoleh dari situs Sekolah Cerdas di http://www.sekolah/ Cerdas Indonesia.co.id) Inisiatif seperti ini perlu mendapat dukungan dari kita semua. Ingat, ini masa depan anak cucu kita semua.

HAKIKAT PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Oleh: Muhammad Arifai, S.Pd
(Guru SMA Negeri 1 Watansoppeng)


A. Pendahuluan
Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan di negara kita adalah melalui pembaruan kurikulm. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang hanya berlaku beberapa tahun saja telah diperbarui menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Salah satu sasaran dari pembaruan kurikulum tersebut adalah guru yang setiap harinya melaksanakan kegiatan pembelajaran di sekolah. Guru diharapkan mengalami perubahan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di sekolah. Perubahan tersebut salah satunya adalah dalam hal penyajian materi pembelajaran dengan menggunakan berbagai pendekatan dan metode yang inovatif.
Salah satu pendekatan pengajaran yang boleh dikatakan inovatif adalah pendekatan kooperatif. Melalui pendekatan kooperatif guru dapat melaksanakan pembelajaran kooperatif. Namun, apakah sebenarnya itu pembelajaran kooperatif serta bagaimana pelaksanaannya di kelas? Hal ini masih menjadi tanda tanya bagi sebagian besar guru di lapangan. Oleh karena itu, hakikat pembelajaran kooperatif perlu diketahui oleh para guru agar dapat menerapkan pembelajaran kooperatif dalam melaksanakan tugas pengabdiannya.
Kata kunci: Pembelajaran kooperatif



B. Pembelajaran Kooperatif
Mengenai pengertian dari pengajaran kooperatif, telah diuraikan oleh Holubec ( dalam Nurhadi, dkk., 2003: 59 ) yang mengemukakan bahwa pengajaran kooperatif ( Coopertive Learning ) memerlukan pendekatan pengajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar.
Dalam kegiatan pengajaran dengan strategi kooperatif, digunakanlah istilah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif berfokus pada kerjasama antara siswa. Menurut Abdurrahman dan Bintoro ( dalam Nurhadi, dkk., 2003: 60 ), pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih, dan silih asuh antarsesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata. Dalam pembelajaran kooperatif terdapat elemen-elemen yang saling terkait, yaitu: (1) saling ketergantungan positif; (2) interaksi tatap muka; (3) akuntabilitas individual; dan (4) keterampilan untuk menjalin hubungan antarpribadi atau keterampilan sosial yang sengaja diajarkan.
1. Pentingnya Pembelajaran Kooperatif
Ada banyak alasan mengapa pembelajaran kooperatif dikembangkan. Hasil penelitian dari Johnson dan Johnson ( dalam Nurhadi, dkk., 2003: 62 ) menunjukkan adanya berbagai keunggulan pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
a. Memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial.
b. Mengembangkan kegembiraan belajar yang sejati.
c. Memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilan, informasi, perilaku sosial, dan pandangan.
d. Memungkinkan terbentuk dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan komitmen.
e. Meningkatkan keterampilan metakognitif.
f. Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau egois dan egosentris.
g. Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial.
h. Menghilangkan siswa dari penderitaan akibat kesendirian atau keterasingan .
i. Dapat menjadi acuan bagi perkembangan kepribadian yang sehat dan terintegrasi.
j. Membangun persahabatan yang berlanjut hingga dewasa.
k. Mencegah timbulnya gangguan kejiwaan.
l. Mencegah terjadinya kenakalan di masa remaja.
m. Menimbulkan perilaku rasional di masa remaja.
n. Berbagai keterampilan sosial yang diperlukan untuk memelihara hubungan saling
membutuhkan dapat diajarkan dan dipraktikkan.
o. Meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama manusia.
p. Meningkatkan kemampuan memandang masalah dan situasi dari berbagai
perspektif.
q. Meningkatkan perasaan penuh makna mengenai arah dan tujuan hidup.
r. Meningkatkan keyakinan terhadap ide atau gagasan sendiri.
s. Meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain yang dirasakan lebih baik.
t. Meningkatkan motivasi belajar intrinsik.
u. Meningkatkan kegemaran berteman tanpa memandang perbedaan kemampuan,
jenis kelamin, etnis, kelas sosial, agama, dan orientasi tugas.
v. Mengembangkan kesadaran bertanggung jawab dan saling menjaga perasaan.
w. Meningkatkan sikap positif terhadap belajar dan pengalaman belajar.
x. Meningkatkan keterampilan hidup bergotong royong.
y. Meningkatkan sikap tenggang rasa.
z. Meningkatkan kemampuan berpikir divergen atau berpikir kreatif.
aa. Memungkinkan siswa mampu mengubah pandangan klise menjadi pandangan
yang dinamis dan realitas.
ab. Meningkatkan rasa harga diri dan penerimaan diri.
ac. Meningkatkan kesehatan psikologis.
ad. Memberikan harapan yang lebih besar bagi terbentuknya manusia dewasa yang
mampu menjalin hubungan positif dengan sesamanya, baik di tempat kerja maupun di masyarakat.
ae. Meningkatkan hubungan positif antara siswa dengan guru dan personel sekolah.
af. Meningkatkan pandangan siswa terhadap guru yang bukan hanya sebagai penun-
jang keberhasilan akademik tetapi juga perkembangan kepribadian yang sehat dan
terintegrasi.
ag. Meningkatkan pandangan siswa terhadap guru yang bukan hanya pengajar tetapi
juga pendidik.
2. Pelaksanaan Pembelajaran Kooperatif
Dalam melaksanakan pembelajaran kooperatif, banyak metode atau cara yang dapat digunakan oleh guru. Menurut Arends, dkk. ( dalam Nurhadi, dkk., 2003: 63 ) ada empat metode yang dapat dipilih oleh seorang guru dalam melaksanakan pembelajaran kooperatif. Keempat metode itu dapat diuraikan sebagai berikut:


a. Metode STAD ( Student Teams Achievement Divisions )
Metode STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan-kawannya dari universitas John Hopkins. Metode ini dipandang sebagai yang paling sederhana dan paling langsung dari pendekatan pembelajaran kooperatif. Para guru menggunakan metode STAD untuk mengajarkan informasi baru kepada siswa setiap minggu, baik melalui penyajian verbal maupun tertulis. Para siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok atau tim, masing-masing terdiri atas empat atau lima anggota kelompok. Tiap tim memiliki anggota yang heterogen, baik jenis kelamin, ras, etnik, maupun kemampuannya ( tinggi, sedang, rendah ). Tiap anggota tim menggunakan lembar kerja akademik; dan kemudian saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi antarsesama tim. Secara individual atau tim, tiap minggu atau tiap dua minggu dilakukan evaluasi oleh guru untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap bahan akademik yang telah dipelajari melalui lembaran tadi. Tiap siswa dan tiap tim diberi skor atas penguasaannya terhadap bahan ajar, dan kepada siswa secara individu atau tim yang meraih prestasi tinggi atau memperoleh skor yang sempurna diberi penghargaan.
b. Metode Jigsaw
Metode ini dikembangkan oleh Elliot Aronson dan kawan-kawannya dari Universitas Texas dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan kawan-kawannya. Melalui metode Jigsaw, kelas dibagi menjadi beberapa tim yang anggotanya terdiri dari lima atau enam siswa dengan karakteristik yang heterogen. Bahan akademik disajikan kepada siswa dalam bentuk teks; dan setiap siswa bertanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian dari bahan akademik tersebut. Para anggota dari berbagai tim yang berbeda memiliki tanggung jawab untuk saling membantu mengkaji bagian tersebut. Kumpulan siswa semacam itu disebut kelompok pakar ( expert group ). Selanjutnya, para siswa yang berada pada kelompok pakar kembali ke kelompok semula untuk mengajar anggota lain mengenai materi yang telah dipelajari dalam kelompok pakar. Setelah diadakan pertemuan dan diskusi dalam kelompok semula, para siswa dievaluasi secara individual mengenai bahan yang telah dipelajari dalam metode Jigsaw.
c. Metode Investasi Kelompok ( Group Investigation )
Dasar-dasar metode GI dirancang oleh Herbert Thelen, selanjutnya diperluas dan diperbaiki oleh Sharan dan kawan-kawannya dari Unversitas Tel Aviv. Metode GI sering dipandang sebagai metode paling kompleks dibandingkan dengan metode STAD dan Jigsaw, metode GI melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Para guru yang menggunakan metode
group investigation umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan lima hingga enam siswa dengan karakteristik yang heterogen. Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan laporan dan menyajikan di depan kelas secara keseluruhan. Adapun langkah-langkah metode GI yakni :
(1) seleksi topik, yakni para siswa memilih berbagai subtopik dalam suatu wilayah masalah umum yang terlebih dahulu digambakan oleh guru. (2) merencanakan kerja sama, yakni para siswa beserta guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus,tugas dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih. (3) implementasi, yakni para siswa melaksanakan rencana yang telah dilaksanakan pada langkah sebelumnya. (4) analisis dan sintesis, yakni para siswa menganalisis dan mensintesiskan berbagai informasi yang telah diperoleh pada kegiatan sebelumnya. (5) penyajian hasil akhir, yakni semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari. (6) evaluasi, yakni guru beserta para siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan.
d. Metode Struktural
Metode ini dikembangkan oleh Spencer Kagan dan kawan-kawannya.
Meskipun memiliki banyak kesamaan dengan metode lainnya, metode struktural menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola-pola interaksi siswa. Berbagai struktur tersebut dikembangkan oleh Kagan dengan maksud agar menjadi alternatif dari berbagai struktur kelas yang lebih tradisional, seperti metode resitasi, yang ditandai dengan pengajuan pertanyaan oleh guru kepada seluruh siswa dalam kelas dan para siswa memberikan jawaban setelah lebih dahulu mengangkat tangan dan ditunjuk oleh guru. Struktur-struktur Kagan menghendaki agar para siswa bekerja sama dan saling bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara kooperatif.
3. Peran Guru dalam Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif menuntut guru untuk berperan relatif berbeda dari pembelajaran tradisional. Berbagai peran guru dalam pembelajaran kooperatif dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Merumuskan tujuan pembelajaran
b. Menentukan jumlah anggota dalam kelompok belajar
c. Menentukan tempat duduk siswa
d. Merancang bahan untuk meningkatkan saling ketergantungan positif
e. Menentukan peran siswa untuk menunjang saling ketergantungan positif
f. Menjelaskan tugas yang harus dikerjakan
g. Menjelaskan kepada siswa mengenai tujuan dan keharusan bekerja sama
h. Menyusun akuntabilitas individual
i. Menyusun kerja sama antarkelompok
j. Menjelaskan kriteria keberhasilan
k. Menjelaskan perilaku siswa yang diharapkan
l. Memantau perilaku siswa
m.Memberikan bantuan kepada siswa dalam menyelesaikan tugas
n. Melakukan intervensi untuk mengajarkan keterampilan bekerja
o. Menutup pelajaran
p. Menilai kualitas pekerjaan atau hasil belajar siswa
q. Menilai kualitas kerja sama antaranggota kelompok
Untuk mengaktualisasikan langkah-langkah yang telah disebutkan di atas ke dalam suatu bentuk perencanaan pembelajaran atau program satuan pelajaran, dibutuhkan peranan guru dan siswa yang optimal dalam mewujudkan suatu pembelajaran yang benar-benar berbasis kerja sama atau kooperatif.








Pengajaran Sastra dan Metodenya

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sudah sejak lama terdengar sorotan yang ditujukan kepada pelaksanaan pengajaran sastra yang dianggap tidak berhasil menumbuhkan minat peserta didik terhadap karya sastra. Pengajaran sastra lebih mengutamakan pengetahuan mengenai sastra dan kurang memperkenalkan karya sastra itu sendiri. Pengajaran sastra selama ini lebih bersifat verbalititas dengan jalan menyodorkan sejarah kesusastraan, bentuk-bentuk sastra, dan unsur-unsur sastra secara terpisah. Jika karya sastra itu pun dibicarakan, biasanya hanya terbatas pada ringkasan cerita yang bersifat hapalan yang membosankan, sehingga jauh dari harapan akan menumbuhkan minat, terlebih lagi daya imajinasi peserta didik. Pengajaran sastra tidak memberikan peluang kepada peserta didik untuk memperkaya pengalaman batin mereka.
Fenomena pengajaran sastra selama ini menunjukkan bahwa siswa belajar sastra hanya karena tujuan mendesak, yakni memenuhi tuntutan kurikulum dan agar dapat lulus pada ujian akhir. Dampaknya, pelajaran sastra bagai beban dan paksaan semata.
Tujuan pengajaran sastra adalah agar siswa mempunyai pengalaman berekspresi sastra. Pengalaman berekspresi sastra ini dilakukan sebagai kegiatan mengembangkan daya imaji, rasa, dan daya cipta. Pengalaman ekspresi sastra ini akan lebih tepat bila diintegrasikan dengan keterampilan menulis. Misalnya menulis puisi.
Kegiatan menulis puisi adalah kegiatan yang bersifat produktif-kreatif. Kegiatan ini dilaksanakan melalui suatu proses yang dinamakan proses kreatif. Rampan (Salam, 2005) menyatakan bahwa proses kreatif mengalir di dalam suasana kreatif yang memungkinkan lahirnya karya-karya dengan bahasa indah dan dari segi pemikran cukup mendalam. Sejalan dengan pendapat di atas, Mulyati (Salam, 2005) menyatakan bahwa proses kreatif berkembang jika terdapat empat unsur terkait. Unsur-unsur tersebut adalah (1) pengenalan pribadi dan pengetahuan, (2) dorongan internal dan eksternal siswa, (3) kebermaknaan belajar, dan (4) hasil yang bernilai bagi orang lain. dengan terpenuhinya keempat unsur kreatif tersebut, kegiatan pembelajaran menulis puisi akan mencapai hasil yang maksimal. Dalam kegiatan menulis puisi, siswa perlu mendapat satu arahan sehingga memudahkan dalam proses pembelajaran. Sukristanto (Salam, 2005) mengemukakan bahwa kemampuan menulis puisi dapat dicapai dengan bimbingan yang sistematis serta latihan yang intensif. Siswa hendaknya diarahkan dengan bimbingan tahap demi tahap tentang apa yang harus dilakukannya. Proses pelaksanaan menulis puisi sebaiknya memperhatikan tahap-tahap kreativitas yang dikemukakan oleh Rhodes (Edraswara, 2002: 218) yaitu tahap preparasi, inkubai, iluminasi, dan verifikasi. Pada tahap preparasi, dilaksanakan kegiatan pengumpulan data atau informasi yang akan dijadikan bahan penulisan. Tahap inkubasi dilakukan dalam usaha untuk mengendapkan atau mematangkan ide-ide yang telah dimunculkan pada tahap sebelumnya. Tahap iluminasi merupakan tahap pelahiran ide, gagasan, atau pengalaman dalam bentuk puisi. Tahap yang terakhir adalah verifikasi, yaitu kegiatan menilai puisi hasil karya sendiri.
Sebagai ujung tombak tercapainya tujuan pendidikan, guru perlu mengetahui hal-hal yang akan dicapai dan hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa. Guru juga perlu mengetahui kompetensi peserta didik melalui pembelajaran; hal yang harus dikembangkan secara maksimal serta cara penerapannya. Selain itu, guru juga perlu memperhatikan keterkaitan materi pelajaran dengan konteks kehdupan peserta didik. Oleh karena itu, seorang guru yang profesional harus mampu memiliki dan menerapkan metode atau strategi yang tepat untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
Salah satu metode belajar mengajar yang didasarkan pada kurikulum berbasis kompetensi yang diterapkan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan siswa menulis atau membuat puisi adalah metode konstruktivisme. Nurhadi (2002: 9) mengemukakan bahwa konstruktivisme (constructivism) merupakan landasan berpikir (filosof) pendekatan CTL, yakni pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep, atau kaidah yang sudah siap untuk diambil dan diingat. Pengetahuan dibangun (dikonstruksi) manusia sedikit demi sedikit yang diberi makna melalui pengalaman nyata dan hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus merekonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Dengan metode konstruktivisme ini diharapkan proses pembelajaran siswa lebih maksimal, termasuk pembelajaran membuat puisi.

Dengan dasar itu maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas (action research) dengan pendekatan kontekstual yang memfokuskan pada metode konstruktivisme oleh guru di kelas yaitu peningkatan kemampuan menulis puisi siswa kelas 1 SMA Negeri 1 Tonra, Kabupaten Bone. Selain hal tersebut, pemilihan topik penelitian oleh penulis juga didasarkan pada pertimbangan bahwa penelitian tentang penggunaan metode konstruktivisme dalam meningkatkan kemampuan membuat puisi siswa masih sangat langka.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan tersebut, maka yang menjadi masalah utama yang dikaji dalam penelitian ini adalah: Apakah penerapan metode konstruktivisme bermanfaat dalam meningkatkan kemampuan membuat puisi siswa kelas 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng? Masalah utama ini dijabarkan dalam beberapa submasalah: 1) Bagaimana penerapan metode konstruktivisme dalam meningkatkan kemampuan membuat puisi siswa kelas 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng dalam perencanaan, 2) Bagaimana penerapan metode konstruktivisme dalam meningkatkan kemampuan membuat puisi siswa kelas 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng dalam pelaksanaan, dan 3) Bagaimana penerapan metode konstruktivisme dalam meningkatkan kemampuan membuat puisi siswa kelas 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng dalam evaluasi.


C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai peneliti dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan metode konstruktivisme dalam peningkatan kemampuan membuat puisi siswa kelas 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng. Tujuan utama dalam penelitian ini dijabarkan dalam beberapa sub yakni: 1) Mendeskripsikan penerapan metode konstruktivisme dalam meningkatkan kemampuan membuat puisi siswa kelas 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng dalam tahap perencanaan, 2) Mendeskripsikan penerapan metode konstruktivisme dalam meningkatkan kemampuan membuat puisi siswa kelas 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng dalam tahap pelaksanaan, dan 3) Mendeskripsikan penerapan metode konstruktivisme dalam meningkatkan kemampuan membuat puisi siswa kelas 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng dalam tahap evaluasi.

D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi penting tentang (1) manfaat penerapan metode konstruktivisme dalam peningkatan kemampuan membuat puisi siswa kelas 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi; (2) memberikan sumbangan pemikiran kepada guru-guru mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia untuk menerapkan metode konstruktivisme dalam pembelajaran membuat puisi yang mengarah pada peningkatan kemampuan apresiatif siswa.
Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran yang berharga bagi pengembangan metodologi pengajaran sastra, pengembangan minat dan kemampuan siswa dalam mereproduksi karya sastra, serta sebagai bahan pembanding bagi penelitian pengajaran sastra yang lain.

TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan pustaka yang diuraikan dalam penelitian ini pada dasarnya dijadikan acuan untuk mendukung dan memperjelas penelitian ini. Sehubungan dengan masalah yang akan diteliti, kerangka teori yang dianggap relevan dengan penelitian ini akan diuraikan sebagai berikut.
1. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
Pembelajaran kontekstual atau contextual taeching and learning (CTL) adalah salah satu pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). CTL, merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Dalam sistem ini, strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti makna belajar, manfaat belajar, status pembelajaran, dan proses pencapaiannya. Siswa sadar bahwa hal yang dipelajarinya berguna bagi kehidupannya nanti. Dengan begitu, memposisikan diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti. Mereka mempelajari hal yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menggapainya. Dalam upaya itu, mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing.
Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas/siswa. Pengetahuan dan keterampilan datang dari ’menemukan sendiri bukan dari hal yang dikatakan oleh guru’. Demikianlah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan CTL.
Kontekstual hanyalah sebuah strategi pembelajaran. Seperti halnya pembelajaran lain, kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna. Pendekatan kontekstual dapat dijalankan tanpa harus mengubah kurikulum dan tuntunan yang ada.
Zahorik (Nurhadi, 2002: 23) mengemukakan bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia. Pengetahuan bukan seperangkat fakta dan konsep, bukan juga sesuatu yang hidup tersendiri dari seorang ahli. Manusia harus berkreasi atau membangun pengetahuan atas usaha manusia memberi makna untuk pengalamannya. Sesuatu yang diketahui harus dikonstruksikan sendiri.
Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut.



a. Proses Belajar
Dalam proses belajar, hal yang harus diperhatikan adalah:
1) belajar tidak hanya sekedar menghapal, siswa harus mengonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri;
2) anak belajar dari mengalami, anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru dan bukan diberi begitu saja oleh guru;
3) para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang ini terorganisasi dan mencermikan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan;
4) pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan;
5) manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi yang baru;
6) siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide;
7) proses belajar dapat mengubah struktur otak yang berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang. Untuk itu perlu dipahami, strategi belajar yang salah dan terus menerus dipanjangkan, akan memengaruhi struktur otak yang ada pada akhirnya memengaruhi cara seseorang berperilaku.



b. Transfer Belajar
Dalam transfer belajar hal yang harus diperhatikan adalah :
1) siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain;
2) keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sempit) secara sedikit demi sedikit;
3) sangat penting diketahui oleh siswa ”untuk apa ia belajar” dan ”bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu”.
c. Siswa sebagai Pembelajar
Hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan keberadaan siswa sebagai pembelajar adalah:
1) manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu dan seorang anak mempunyai kecenderungan belajar dengan cepat tentang hal-hal yang baru;
2) strategi belajar itu penting agar anak dapat mempelajari sesuatu yang baru;
3) peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara yang baru dan yang sudah diketahui;
4) tugas guru memfasilitasi: agar informasi baru bermakna, guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan nenerapkam ide mereka sendiri dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri.



d. Pentingnya Lingkungan Belajar
Sehubungan dengan lingkungan belajar, hal yang harus diperhatikan adalah:
1) belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa, dari ”guru acting di depan kelas, siswa menonton” ke ”siswa acting, bekerja, dan berkarya, guru mengarahkan”;
2) pengajaran harus berpusat pada ”bagaimana cara” siswa menambah pengetahuan baru mereka, strategi belajar lebih dipentingkan daripada hasilnya;
3) umpan balik amat penting bagi siswa yang berasal dari proses penialaiannya (assessment) yang benar;
4) menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.
Lebih lanjut, Zahorik (Nurhadi, 2002: 6) mengemukakan bahwa ada lima elemen yang harus diperhatikan dalam praktik pembelajaran kontekstual, yaitu:
a. pegaktifan pengetahuan yang sudah ada;
b. pemerolehan pengetahuan baru dengan cara mempelajari secara keseluruhan dahulu, lemudian memperhatikan detailnya;
c. pemahaman pengetahuan, yakni dengan cara menyusun hipotesis, tukar pendapat dengan orang lain, merevisi dan mengembangkan konsep;
d. mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut;
e. melakukan refleksi terhadap pengembangan pengetahuan tersebut.
Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama, yakni konstruktivisme (constructivism), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), bertanya (questioning), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment).

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Berdasarkan judul penelitian ini, yakni Penerapan Mtode Konstruktivisme Dalam Peningkatan Kemampuan Membuat Puisi Siswa Kelas 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng, maka penelitian ini digolngkan ke dalam penelitian tindakan kelas. Penelitian tindalan kelas ini dilakukan untuk menggambarkan dan mengamati proses belajar siswa kelas 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng melalui penerapan metode konstruktivisme dalam menulis puisi oleh guru di kelas. Mekanisme pelaksanaannya dengan dua siklus. Setiap siklus masing-masing dilaksanakan dengan tiga tahap yaitu: tahap (1) perencanaan, (2) tindakan dan pengamatan, dan (3) refleksi. Penelitian tindakan kelas ni merupakan salah satu upaya untuk memperbaiki praktik pembelajaran agar lebih bermanfaat. dengan demikian, guru dapat mengetahui secara jelas masalah-masalah yang ada di kelas dan bagaimana mengatasi masalah tersebut.
B. Data dan Sumber Data
1. Data
Data dalam penelitian ini adalah tes dan data perilaku. data tes diperoleh dari hasil tugas membuat puisi dengan kategori: (1) tema puisi, (2) nada, (3) amanat, (4) isi puisi, (5) penggunaan bahasa figuratif, (6) diksi, dan (7) kata konkret, serta dari hasil tes kemampuan siswa menjawab setiap pertanyaan yang diberikan oleh guru pada saat proses belajar mengajar. Data perilaku diperoleh pada saat siswa melakukan aktivitas-aktivitas proses pembelajaran melalui penerapan metode konstruktivisme di kelas.
2. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah aktivitas guru dan siswa di kelas pada saat melakukan kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan metode konstruktivisme dalam pembelajaran puisi.
C. Teknik Pengumpulan Data
1. Observasi
Teknik observasi dilakukan untuk merekam semua aktivitas yang dilakukan oleh siswa dan guru pada saat pembelajaran berlangsung.
2. Wawancara
Teknik wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai ketercapaian tujuan dari penerapan metode konstruktivisme.
3. Teknik pencatatan
Semua kegiatan pada saat menerapkan metode konstruktivisme dalam membuat puisi dicatat oleh peneliti.
4. Tes
Siswa ditugaskan untuk membuat puisi.
D. Teknik Analisis Data
data tes dianalisis dengan menggunakan teknik penugasan dan tanya jawab pada saat proses kegiatan belajar mengajar berlangsung.