
HUJAN, ANGIN DAN BADAI
Karya: M. Arifai, S.Pd
(Guru SMA N 1 Watansoppeng)
Aku adalah hujan yang senantiasa mengguyur
menumbuhkan tunas-tunas muda harapan bangsa.
Aku adalah angin yang akan menerbangkan tirai penghalang
yang menyelubungi hati dan jiwamu
agar cahaya kemuliaan menyinari pekatnya pikiranmu.
Aku adalah badai yang siap mengangkat sosokmu
menembus gelapnya mega, melintasi samudra biru
menuju tempat terhormat seperti yang kamu impikan.
Akulah hujan, angin dan badai
berkelana di gurun-gurun sahara
menyelinap di antara pepohonan dalam rimba raya
berenang di sela-sela ombak pasifik
mengumpulkan pernak-pernik kehidupan
menggulung intisari peradaban
meramu dalam satu aliran
mengalir di antara denyut nadimu
Yang tak pernah berhenti berdetak
mengiringi langkah dalam jejak
memahami makna setiap semester waktu
merangkum dalam setiap kisaran masa
yang kadang meninggalkan sejumlah teka-teki.
AKHIR SEBUAH TEKA-TEKI
Karya: M. Arifai, S.Pd
(Guru SMA N 1 Watansoppeng)
Mendung yang menggantung
adalah lukisan perasaan kami
Guruh yang menggemuruh
adalah suara hati kami
Gerimis yang menetes
adalah ungkapan hati perasaan kami dalam sebuah teka-teki.
angin yang beku
dedaunan yang kaku
mulut yang membisu
terpasung oleh ragu
dalam pusaran waktu
karena sebuah teka-teki yang mengharu biru.
Mendung yang menggantung itu teka-teki
guruh yang menggemuruh itu teka-teki
gerimis yang menetes adalah jawaban teka-teki.
Manusia yang membuat pemimpin dan ikut dipimpin menyimpan teka-teki
hendak ke mana, ada di mana, dan di kemanakan
adalah teka-teki yang datang dan perginya tak terkirakan
seperti teka-teki yang selalu mencari jawaban
begitulah takdir yang sulit menemukan jawaban.
Kesatria Pendidik
Karya: M. Arifai, S.Pd
(Guru SMA N 1 Watanoppeng)
Anak-anakku,
bila esok engkau pergi dan melewati jalan yang sama
Tengoklah ke gedung sekolah disudut jalan yang andal nan unggul itu
di situlah pernah mengabdi seorang kesatria pendidik selama 29 tahun
menabur benih-benih prestasi di hati anak-anak harapan bangsa
menyemai bibit-bibit unggul pelanjut masa depan bangsa
menumbuhkan tunas-tunas muda mencapai masa depan yang gemilang.
Tapi anak-anakku,
jangan heran kalau gedung sekolah itu kini tidak semeriah dulu lagi
kesatria pendidik itu kini tak ada lagi di gedung itu
ia kini telah mengabdi di tempat lain yang jauh dari kita
Jangan ditanya mengapa, anak-anakku,
juga jangan meringis dan mengeluarkan nada penyesalan.
Beliau pergi bukan karena tak sayang lagi pada kita
Beliau menjauh dari kita juga bukan karena perasaan benci
Beliau tinggalkan kita karena sebuah tugas mulia
untuk melanjutkan menabur benih-benih prestasi di hati anak-anak bangsa
menyemaikan bibit-bibit unggul generasi pelanjut
menumbuhkan tunas-tunas muda yang unggul dalam mutu, berbudaya, dan berimtak.
Anak-anakku mestinya bersyukur
karena beliau yang selama ini kita banggakan
yang telah banyak memberikan kebaikan pada kita
masih lebih dibutuhkan tenaga dan pikirannya di tempat lain
yang penting bagi kita anak-anakku,
janganlah pernah lupa pesan beliau untuk tetap bersemangat
belajar, belajar, dan belajar.
Beliau memang telah jauh dari kita
tapi canda tawanya masih tetap terngian di telinga
teguran kasih sayangnya tetap membekas di hati
kebijakan-kebijakannya tetap terasa, hingga kita pun merasa...
jauh di mata dekat di hati.
LURUH DALAM DOA
Karya: M. Arifai, S.Pd
(Guru SMA N 1 Watansoppeng)
Masa demi masa digubah dalam untaian waktu dan cita
Jenjang demi jenjang telah terlampaui dengan pasti
Tiga masa dalam jenjang yang kian meningkat
Mampukah mengikat asa dalam cita dan cinta
Dalam dekapan maya terbersit angan yang mewujud
Menggelora dalam samudra kalbu
Menyeruak di antara karang-karang angkuh
Membentuk butiran-butiran nurani yang luruh dalam doa
untuk Bapak – Ibu pendidik kami
Ya Rahman, ya Rahim, ya Karim
Anugerahkanlah kepada para pendidik kami kearifan
agar senantiasa mendidik kami dalam kesalehan
Berikanlah mereka petunjuk-Mu
dalam mendidik kami menjadi penerus cita-cita bangsa
Ya Qawiyyu, Ya Waliyu
Karuniakanlah kekuatan kepada para pengasuh kami
agar mereka tetap mengasuh, mengasah, dan mengasihi kami
meski kadang kami berperilaku menjengkelkan mereka
Jauhkanlah segala gangguan dari mereka
hingga mereka selalu menjalankan tugas pengabdiannya
mengurusi kami setiap saat setiap waktu
meski mereka terkadang tak terurus dan diurus
Berilah kesempatan kepada kami untuk berbakti
menunjukkan kepada mereka, kepada bangsa dan negara kami
bahwa mereka tidak sia-sia mendidik dan mengurus kami selama ini
mampukanlah kami membalas budi baik mereka
hingga mereka tak lagi harus berpeluh dan berselimut debu jalanan
Ya gaffaru, Ya gofur
Ampunilah segala dosa mereka
Ampunilah juga dosa-dosa kami yang teramat sangat
memenuhi otak dan pikiran kami
hingga membuat kami jadi pembangkang, pemberang, dan penentang
Karena izin-Mulah kami ada
dan atas iradah-Mu kami menjadi tiada
Jadikanlah keberadaan kami kebahagiaan bagi mereka
dan ketiadaan kami sebagai kenangan yang membanggakan isi dunia.
Bulan Masih Penuh
Ketika malam terlelap di pangkuan rembulan
Bintang memainkan simponi dengan cahaya
Awan tak kuasa melawan kehendak angin
Berdansa dan menari kian kemari.
Sesosok bayangan tak bergerak memandangi bulan
bulan itu masih penuh
seperti dulu kala sosok itu duduk memandanginya
dari balai-balai bambu teras rumahnya yang beratap cahaya bulan
ketika anak istrinya terlelap bersama malam. Dan seperti dulu
ia menggenggam catatan kredit dari koperasi tempatnya mengabdi
yang terjatuh dari lembaran silabus
Ketika hendak melihat kompetensi yang hendak diajarkan esok hari.
Bulan masih penuh
Tak seperti kantongku yang bolong sejak kemarin. Ah… tak mengapa.
Esok aku harus mengajarkan materi ini lalu mengejar materi lain
seperti awan yang tak pernah jemu mengejar sang bulan.
(M. Arifai, S.Pd, Maret 2009)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar