
HAKIKAT PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Oleh: Muhammad Arifai, S.Pd
(Guru SMA Negeri 1 Watansoppeng)
A. Pendahuluan
Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan di negara kita adalah melalui pembaruan kurikulm. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang hanya berlaku beberapa tahun saja telah diperbarui menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Salah satu sasaran dari pembaruan kurikulum tersebut adalah guru yang setiap harinya melaksanakan kegiatan pembelajaran di sekolah. Guru diharapkan mengalami perubahan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di sekolah. Perubahan tersebut salah satunya adalah dalam hal penyajian materi pembelajaran dengan menggunakan berbagai pendekatan dan metode yang inovatif.
Salah satu pendekatan pengajaran yang boleh dikatakan inovatif adalah pendekatan kooperatif. Melalui pendekatan kooperatif guru dapat melaksanakan pembelajaran kooperatif. Namun, apakah sebenarnya itu pembelajaran kooperatif serta bagaimana pelaksanaannya di kelas? Hal ini masih menjadi tanda tanya bagi sebagian besar guru di lapangan. Oleh karena itu, hakikat pembelajaran kooperatif perlu diketahui oleh para guru agar dapat menerapkan pembelajaran kooperatif dalam melaksanakan tugas pengabdiannya.
Kata kunci: Pembelajaran kooperatif
B. Pembelajaran Kooperatif
Mengenai pengertian dari pengajaran kooperatif, telah diuraikan oleh Holubec ( dalam Nurhadi, dkk., 2003: 59 ) yang mengemukakan bahwa pengajaran kooperatif ( Coopertive Learning ) memerlukan pendekatan pengajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar.
Dalam kegiatan pengajaran dengan strategi kooperatif, digunakanlah istilah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif berfokus pada kerjasama antara siswa. Menurut Abdurrahman dan Bintoro ( dalam Nurhadi, dkk., 2003: 60 ), pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih, dan silih asuh antarsesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata. Dalam pembelajaran kooperatif terdapat elemen-elemen yang saling terkait, yaitu: (1) saling ketergantungan positif; (2) interaksi tatap muka; (3) akuntabilitas individual; dan (4) keterampilan untuk menjalin hubungan antarpribadi atau keterampilan sosial yang sengaja diajarkan.
1. Pentingnya Pembelajaran Kooperatif
Ada banyak alasan mengapa pembelajaran kooperatif dikembangkan. Hasil penelitian dari Johnson dan Johnson ( dalam Nurhadi, dkk., 2003: 62 ) menunjukkan adanya berbagai keunggulan pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
a. Memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial.
b. Mengembangkan kegembiraan belajar yang sejati.
c. Memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilan, informasi, perilaku sosial, dan pandangan.
d. Memungkinkan terbentuk dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan komitmen.
e. Meningkatkan keterampilan metakognitif.
f. Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau egois dan egosentris.
g. Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial.
h. Menghilangkan siswa dari penderitaan akibat kesendirian atau keterasingan .
i. Dapat menjadi acuan bagi perkembangan kepribadian yang sehat dan terintegrasi.
j. Membangun persahabatan yang berlanjut hingga dewasa.
k. Mencegah timbulnya gangguan kejiwaan.
l. Mencegah terjadinya kenakalan di masa remaja.
m. Menimbulkan perilaku rasional di masa remaja.
n. Berbagai keterampilan sosial yang diperlukan untuk memelihara hubungan saling
membutuhkan dapat diajarkan dan dipraktikkan.
o. Meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama manusia.
p. Meningkatkan kemampuan memandang masalah dan situasi dari berbagai
perspektif.
q. Meningkatkan perasaan penuh makna mengenai arah dan tujuan hidup.
r. Meningkatkan keyakinan terhadap ide atau gagasan sendiri.
s. Meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain yang dirasakan lebih baik.
t. Meningkatkan motivasi belajar intrinsik.
u. Meningkatkan kegemaran berteman tanpa memandang perbedaan kemampuan,
jenis kelamin, etnis, kelas sosial, agama, dan orientasi tugas.
v. Mengembangkan kesadaran bertanggung jawab dan saling menjaga perasaan.
w. Meningkatkan sikap positif terhadap belajar dan pengalaman belajar.
x. Meningkatkan keterampilan hidup bergotong royong.
y. Meningkatkan sikap tenggang rasa.
z. Meningkatkan kemampuan berpikir divergen atau berpikir kreatif.
aa. Memungkinkan siswa mampu mengubah pandangan klise menjadi pandangan
yang dinamis dan realitas.
ab. Meningkatkan rasa harga diri dan penerimaan diri.
ac. Meningkatkan kesehatan psikologis.
ad. Memberikan harapan yang lebih besar bagi terbentuknya manusia dewasa yang
mampu menjalin hubungan positif dengan sesamanya, baik di tempat kerja maupun di masyarakat.
ae. Meningkatkan hubungan positif antara siswa dengan guru dan personel sekolah.
af. Meningkatkan pandangan siswa terhadap guru yang bukan hanya sebagai penun-
jang keberhasilan akademik tetapi juga perkembangan kepribadian yang sehat dan
terintegrasi.
ag. Meningkatkan pandangan siswa terhadap guru yang bukan hanya pengajar tetapi
juga pendidik.
2. Pelaksanaan Pembelajaran Kooperatif
Dalam melaksanakan pembelajaran kooperatif, banyak metode atau cara yang dapat digunakan oleh guru. Menurut Arends, dkk. ( dalam Nurhadi, dkk., 2003: 63 ) ada empat metode yang dapat dipilih oleh seorang guru dalam melaksanakan pembelajaran kooperatif. Keempat metode itu dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Metode STAD ( Student Teams Achievement Divisions )
Metode STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan-kawannya dari universitas John Hopkins. Metode ini dipandang sebagai yang paling sederhana dan paling langsung dari pendekatan pembelajaran kooperatif. Para guru menggunakan metode STAD untuk mengajarkan informasi baru kepada siswa setiap minggu, baik melalui penyajian verbal maupun tertulis. Para siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok atau tim, masing-masing terdiri atas empat atau lima anggota kelompok. Tiap tim memiliki anggota yang heterogen, baik jenis kelamin, ras, etnik, maupun kemampuannya ( tinggi, sedang, rendah ). Tiap anggota tim menggunakan lembar kerja akademik; dan kemudian saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi antarsesama tim. Secara individual atau tim, tiap minggu atau tiap dua minggu dilakukan evaluasi oleh guru untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap bahan akademik yang telah dipelajari melalui lembaran tadi. Tiap siswa dan tiap tim diberi skor atas penguasaannya terhadap bahan ajar, dan kepada siswa secara individu atau tim yang meraih prestasi tinggi atau memperoleh skor yang sempurna diberi penghargaan.
b. Metode Jigsaw
Metode ini dikembangkan oleh Elliot Aronson dan kawan-kawannya dari Universitas Texas dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan kawan-kawannya. Melalui metode Jigsaw, kelas dibagi menjadi beberapa tim yang anggotanya terdiri dari lima atau enam siswa dengan karakteristik yang heterogen. Bahan akademik disajikan kepada siswa dalam bentuk teks; dan setiap siswa bertanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian dari bahan akademik tersebut. Para anggota dari berbagai tim yang berbeda memiliki tanggung jawab untuk saling membantu mengkaji bagian tersebut. Kumpulan siswa semacam itu disebut kelompok pakar ( expert group ). Selanjutnya, para siswa yang berada pada kelompok pakar kembali ke kelompok semula untuk mengajar anggota lain mengenai materi yang telah dipelajari dalam kelompok pakar. Setelah diadakan pertemuan dan diskusi dalam kelompok semula, para siswa dievaluasi secara individual mengenai bahan yang telah dipelajari dalam metode Jigsaw.
c. Metode Investasi Kelompok ( Group Investigation )
Dasar-dasar metode GI dirancang oleh Herbert Thelen, selanjutnya diperluas dan diperbaiki oleh Sharan dan kawan-kawannya dari Unversitas Tel Aviv. Metode GI sering dipandang sebagai metode paling kompleks dibandingkan dengan metode STAD dan Jigsaw, metode GI melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Para guru yang menggunakan metode
group investigation umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan lima hingga enam siswa dengan karakteristik yang heterogen. Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan laporan dan menyajikan di depan kelas secara keseluruhan. Adapun langkah-langkah metode GI yakni :
(1) seleksi topik, yakni para siswa memilih berbagai subtopik dalam suatu wilayah masalah umum yang terlebih dahulu digambakan oleh guru. (2) merencanakan kerja sama, yakni para siswa beserta guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus,tugas dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih. (3) implementasi, yakni para siswa melaksanakan rencana yang telah dilaksanakan pada langkah sebelumnya. (4) analisis dan sintesis, yakni para siswa menganalisis dan mensintesiskan berbagai informasi yang telah diperoleh pada kegiatan sebelumnya. (5) penyajian hasil akhir, yakni semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari. (6) evaluasi, yakni guru beserta para siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan.
d. Metode Struktural
Metode ini dikembangkan oleh Spencer Kagan dan kawan-kawannya.
Meskipun memiliki banyak kesamaan dengan metode lainnya, metode struktural menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola-pola interaksi siswa. Berbagai struktur tersebut dikembangkan oleh Kagan dengan maksud agar menjadi alternatif dari berbagai struktur kelas yang lebih tradisional, seperti metode resitasi, yang ditandai dengan pengajuan pertanyaan oleh guru kepada seluruh siswa dalam kelas dan para siswa memberikan jawaban setelah lebih dahulu mengangkat tangan dan ditunjuk oleh guru. Struktur-struktur Kagan menghendaki agar para siswa bekerja sama dan saling bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara kooperatif.
3. Peran Guru dalam Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif menuntut guru untuk berperan relatif berbeda dari pembelajaran tradisional. Berbagai peran guru dalam pembelajaran kooperatif dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Merumuskan tujuan pembelajaran
b. Menentukan jumlah anggota dalam kelompok belajar
c. Menentukan tempat duduk siswa
d. Merancang bahan untuk meningkatkan saling ketergantungan positif
e. Menentukan peran siswa untuk menunjang saling ketergantungan positif
f. Menjelaskan tugas yang harus dikerjakan
g. Menjelaskan kepada siswa mengenai tujuan dan keharusan bekerja sama
h. Menyusun akuntabilitas individual
i. Menyusun kerja sama antarkelompok
j. Menjelaskan kriteria keberhasilan
k. Menjelaskan perilaku siswa yang diharapkan
l. Memantau perilaku siswa
m.Memberikan bantuan kepada siswa dalam menyelesaikan tugas
n. Melakukan intervensi untuk mengajarkan keterampilan bekerja
o. Menutup pelajaran
p. Menilai kualitas pekerjaan atau hasil belajar siswa
q. Menilai kualitas kerja sama antaranggota kelompok
Untuk mengaktualisasikan langkah-langkah yang telah disebutkan di atas ke dalam suatu bentuk perencanaan pembelajaran atau program satuan pelajaran, dibutuhkan peranan guru dan siswa yang optimal dalam mewujudkan suatu pembelajaran yang benar-benar berbasis kerja sama atau kooperatif.
Oleh: Muhammad Arifai, S.Pd
(Guru SMA Negeri 1 Watansoppeng)
A. Pendahuluan
Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan di negara kita adalah melalui pembaruan kurikulm. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang hanya berlaku beberapa tahun saja telah diperbarui menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Salah satu sasaran dari pembaruan kurikulum tersebut adalah guru yang setiap harinya melaksanakan kegiatan pembelajaran di sekolah. Guru diharapkan mengalami perubahan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di sekolah. Perubahan tersebut salah satunya adalah dalam hal penyajian materi pembelajaran dengan menggunakan berbagai pendekatan dan metode yang inovatif.
Salah satu pendekatan pengajaran yang boleh dikatakan inovatif adalah pendekatan kooperatif. Melalui pendekatan kooperatif guru dapat melaksanakan pembelajaran kooperatif. Namun, apakah sebenarnya itu pembelajaran kooperatif serta bagaimana pelaksanaannya di kelas? Hal ini masih menjadi tanda tanya bagi sebagian besar guru di lapangan. Oleh karena itu, hakikat pembelajaran kooperatif perlu diketahui oleh para guru agar dapat menerapkan pembelajaran kooperatif dalam melaksanakan tugas pengabdiannya.
Kata kunci: Pembelajaran kooperatif
B. Pembelajaran Kooperatif
Mengenai pengertian dari pengajaran kooperatif, telah diuraikan oleh Holubec ( dalam Nurhadi, dkk., 2003: 59 ) yang mengemukakan bahwa pengajaran kooperatif ( Coopertive Learning ) memerlukan pendekatan pengajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar.
Dalam kegiatan pengajaran dengan strategi kooperatif, digunakanlah istilah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif berfokus pada kerjasama antara siswa. Menurut Abdurrahman dan Bintoro ( dalam Nurhadi, dkk., 2003: 60 ), pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih, dan silih asuh antarsesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata. Dalam pembelajaran kooperatif terdapat elemen-elemen yang saling terkait, yaitu: (1) saling ketergantungan positif; (2) interaksi tatap muka; (3) akuntabilitas individual; dan (4) keterampilan untuk menjalin hubungan antarpribadi atau keterampilan sosial yang sengaja diajarkan.
1. Pentingnya Pembelajaran Kooperatif
Ada banyak alasan mengapa pembelajaran kooperatif dikembangkan. Hasil penelitian dari Johnson dan Johnson ( dalam Nurhadi, dkk., 2003: 62 ) menunjukkan adanya berbagai keunggulan pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
a. Memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial.
b. Mengembangkan kegembiraan belajar yang sejati.
c. Memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilan, informasi, perilaku sosial, dan pandangan.
d. Memungkinkan terbentuk dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan komitmen.
e. Meningkatkan keterampilan metakognitif.
f. Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau egois dan egosentris.
g. Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial.
h. Menghilangkan siswa dari penderitaan akibat kesendirian atau keterasingan .
i. Dapat menjadi acuan bagi perkembangan kepribadian yang sehat dan terintegrasi.
j. Membangun persahabatan yang berlanjut hingga dewasa.
k. Mencegah timbulnya gangguan kejiwaan.
l. Mencegah terjadinya kenakalan di masa remaja.
m. Menimbulkan perilaku rasional di masa remaja.
n. Berbagai keterampilan sosial yang diperlukan untuk memelihara hubungan saling
membutuhkan dapat diajarkan dan dipraktikkan.
o. Meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama manusia.
p. Meningkatkan kemampuan memandang masalah dan situasi dari berbagai
perspektif.
q. Meningkatkan perasaan penuh makna mengenai arah dan tujuan hidup.
r. Meningkatkan keyakinan terhadap ide atau gagasan sendiri.
s. Meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain yang dirasakan lebih baik.
t. Meningkatkan motivasi belajar intrinsik.
u. Meningkatkan kegemaran berteman tanpa memandang perbedaan kemampuan,
jenis kelamin, etnis, kelas sosial, agama, dan orientasi tugas.
v. Mengembangkan kesadaran bertanggung jawab dan saling menjaga perasaan.
w. Meningkatkan sikap positif terhadap belajar dan pengalaman belajar.
x. Meningkatkan keterampilan hidup bergotong royong.
y. Meningkatkan sikap tenggang rasa.
z. Meningkatkan kemampuan berpikir divergen atau berpikir kreatif.
aa. Memungkinkan siswa mampu mengubah pandangan klise menjadi pandangan
yang dinamis dan realitas.
ab. Meningkatkan rasa harga diri dan penerimaan diri.
ac. Meningkatkan kesehatan psikologis.
ad. Memberikan harapan yang lebih besar bagi terbentuknya manusia dewasa yang
mampu menjalin hubungan positif dengan sesamanya, baik di tempat kerja maupun di masyarakat.
ae. Meningkatkan hubungan positif antara siswa dengan guru dan personel sekolah.
af. Meningkatkan pandangan siswa terhadap guru yang bukan hanya sebagai penun-
jang keberhasilan akademik tetapi juga perkembangan kepribadian yang sehat dan
terintegrasi.
ag. Meningkatkan pandangan siswa terhadap guru yang bukan hanya pengajar tetapi
juga pendidik.
2. Pelaksanaan Pembelajaran Kooperatif
Dalam melaksanakan pembelajaran kooperatif, banyak metode atau cara yang dapat digunakan oleh guru. Menurut Arends, dkk. ( dalam Nurhadi, dkk., 2003: 63 ) ada empat metode yang dapat dipilih oleh seorang guru dalam melaksanakan pembelajaran kooperatif. Keempat metode itu dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Metode STAD ( Student Teams Achievement Divisions )
Metode STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan-kawannya dari universitas John Hopkins. Metode ini dipandang sebagai yang paling sederhana dan paling langsung dari pendekatan pembelajaran kooperatif. Para guru menggunakan metode STAD untuk mengajarkan informasi baru kepada siswa setiap minggu, baik melalui penyajian verbal maupun tertulis. Para siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok atau tim, masing-masing terdiri atas empat atau lima anggota kelompok. Tiap tim memiliki anggota yang heterogen, baik jenis kelamin, ras, etnik, maupun kemampuannya ( tinggi, sedang, rendah ). Tiap anggota tim menggunakan lembar kerja akademik; dan kemudian saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi antarsesama tim. Secara individual atau tim, tiap minggu atau tiap dua minggu dilakukan evaluasi oleh guru untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap bahan akademik yang telah dipelajari melalui lembaran tadi. Tiap siswa dan tiap tim diberi skor atas penguasaannya terhadap bahan ajar, dan kepada siswa secara individu atau tim yang meraih prestasi tinggi atau memperoleh skor yang sempurna diberi penghargaan.
b. Metode Jigsaw
Metode ini dikembangkan oleh Elliot Aronson dan kawan-kawannya dari Universitas Texas dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan kawan-kawannya. Melalui metode Jigsaw, kelas dibagi menjadi beberapa tim yang anggotanya terdiri dari lima atau enam siswa dengan karakteristik yang heterogen. Bahan akademik disajikan kepada siswa dalam bentuk teks; dan setiap siswa bertanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian dari bahan akademik tersebut. Para anggota dari berbagai tim yang berbeda memiliki tanggung jawab untuk saling membantu mengkaji bagian tersebut. Kumpulan siswa semacam itu disebut kelompok pakar ( expert group ). Selanjutnya, para siswa yang berada pada kelompok pakar kembali ke kelompok semula untuk mengajar anggota lain mengenai materi yang telah dipelajari dalam kelompok pakar. Setelah diadakan pertemuan dan diskusi dalam kelompok semula, para siswa dievaluasi secara individual mengenai bahan yang telah dipelajari dalam metode Jigsaw.
c. Metode Investasi Kelompok ( Group Investigation )
Dasar-dasar metode GI dirancang oleh Herbert Thelen, selanjutnya diperluas dan diperbaiki oleh Sharan dan kawan-kawannya dari Unversitas Tel Aviv. Metode GI sering dipandang sebagai metode paling kompleks dibandingkan dengan metode STAD dan Jigsaw, metode GI melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Para guru yang menggunakan metode
group investigation umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan lima hingga enam siswa dengan karakteristik yang heterogen. Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan laporan dan menyajikan di depan kelas secara keseluruhan. Adapun langkah-langkah metode GI yakni :
(1) seleksi topik, yakni para siswa memilih berbagai subtopik dalam suatu wilayah masalah umum yang terlebih dahulu digambakan oleh guru. (2) merencanakan kerja sama, yakni para siswa beserta guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus,tugas dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih. (3) implementasi, yakni para siswa melaksanakan rencana yang telah dilaksanakan pada langkah sebelumnya. (4) analisis dan sintesis, yakni para siswa menganalisis dan mensintesiskan berbagai informasi yang telah diperoleh pada kegiatan sebelumnya. (5) penyajian hasil akhir, yakni semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari. (6) evaluasi, yakni guru beserta para siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan.
d. Metode Struktural
Metode ini dikembangkan oleh Spencer Kagan dan kawan-kawannya.
Meskipun memiliki banyak kesamaan dengan metode lainnya, metode struktural menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola-pola interaksi siswa. Berbagai struktur tersebut dikembangkan oleh Kagan dengan maksud agar menjadi alternatif dari berbagai struktur kelas yang lebih tradisional, seperti metode resitasi, yang ditandai dengan pengajuan pertanyaan oleh guru kepada seluruh siswa dalam kelas dan para siswa memberikan jawaban setelah lebih dahulu mengangkat tangan dan ditunjuk oleh guru. Struktur-struktur Kagan menghendaki agar para siswa bekerja sama dan saling bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara kooperatif.
3. Peran Guru dalam Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif menuntut guru untuk berperan relatif berbeda dari pembelajaran tradisional. Berbagai peran guru dalam pembelajaran kooperatif dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Merumuskan tujuan pembelajaran
b. Menentukan jumlah anggota dalam kelompok belajar
c. Menentukan tempat duduk siswa
d. Merancang bahan untuk meningkatkan saling ketergantungan positif
e. Menentukan peran siswa untuk menunjang saling ketergantungan positif
f. Menjelaskan tugas yang harus dikerjakan
g. Menjelaskan kepada siswa mengenai tujuan dan keharusan bekerja sama
h. Menyusun akuntabilitas individual
i. Menyusun kerja sama antarkelompok
j. Menjelaskan kriteria keberhasilan
k. Menjelaskan perilaku siswa yang diharapkan
l. Memantau perilaku siswa
m.Memberikan bantuan kepada siswa dalam menyelesaikan tugas
n. Melakukan intervensi untuk mengajarkan keterampilan bekerja
o. Menutup pelajaran
p. Menilai kualitas pekerjaan atau hasil belajar siswa
q. Menilai kualitas kerja sama antaranggota kelompok
Untuk mengaktualisasikan langkah-langkah yang telah disebutkan di atas ke dalam suatu bentuk perencanaan pembelajaran atau program satuan pelajaran, dibutuhkan peranan guru dan siswa yang optimal dalam mewujudkan suatu pembelajaran yang benar-benar berbasis kerja sama atau kooperatif.
2 komentar:
saya sangat setuju dengan penerapan metode konstruktivisme dalam meningkatkan siswa SMAN 1 WT.soppeng membuat puisi karena dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam membuat puisi, khususnya bagi siswa-siswa yang berbakat di bidang ini.
saya setuju kalau guru juga memanfaatkan teknologi informasi dibidang pendidikan khususnya dalam hal kegiatan belajar mengajar di sekolah karena dengan hal itu akan mudah untuk menyampaikan pelajaran-pelajaran ke siswa dan pastinya siswa juga akan merasa mudah untuk memahami pelajaran yang diberikan.
Posting Komentar