Yang Pop dan Uptodate

Kamis, 31 Januari 2013

Opini


Hari Itu Wajah Sekolahku Berkerut
Hari itu, Senin, 29 Oktober 2012. Sekolahku, SMA N 1 Watansoppeng, tetap berdiri tegar di sudut jalan  Samudra sebelum membelok ke kanan jalan kesatria, atau ke kiri jalan Kayangan. Melewati pintu gerbang usang karena tergerus cuaca yang kadang panas kadang dingin dengan serbuan hujan tiba-tiba, dua guru berjenis kelamin perempuan dengan pakaian yang berbeda, satu berpakaian warna hijau atau yang biasa akrab disebut pakaian hansip (pertahanan sipil) dan satu lagi berpakaian seragam korpri (korps pegawai republik Indonesia) berwarna biru muda dengan motif garuda pancasila dan bunga melati, berdiri tegak menyambut siswa yang datang sambil mengulurkan tangan berjabat tangan.
Menurut daftar petugas yang tertempel di kaca kuseng ruangan tata usaha, guru yang bertugas menyambut siswa dengan simbol 3 S (salam, senyum, sapa) pagi itu ada lima guru. Namun, entah mengapa, yang berdiri hanya dua orang guru. Mungkin hal inilah yang menjadikan wajah sekolahku berkerut hari ini.
Matahari terus mendaki dinding-dinding cakrawala dan waktu pun berjalan meninggalkan kerutan-kerutan kesedihan di wajah sekolahku. Tibalah saatnya upacara bendera dimulai. Para siswa memasuki lapangan upacara bersama petugas upacara yang siap melaksanakan tugasnya. Saat protokol mulai membaca susunan acara upacara bendera, terlihat para guru dan staf tata usaha berdiri di teras ruangan guru. Meskipun upacara hari ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya karena hari ini semua guru dan staf tata usaha peserta upacara di haruskan menandatangani daftar hadir, namun guru dan staf tata usaha yang ikut upacara tetap tidak mencapai angka 70% dari jumlah guru yang  64 orang ditambah staf tata usaha sebanyak 5 orang. Kali ini, wajah sekolahku tambah berkerut.
Selesai upacara bendera, bel sekolah pun berteriak “ jam pelajaran pertama selesai, jam kedua dimulai”. Artinya, siswa diharapkan masuk kelas menunggu guru yang akan mengajar pada  jam pelajaran kedua dan ketiga. Para guru yang memiliki tugas mengajar pada jam kedua pun segera masuk kelas. Akan tetapi, siswa kelas X 4 hari ini tidak belajar. Menurut jadwal pelajaran yang terpampang di ruangan kurikulum, hari itu kelas X 4 belajar fisika mulai jam kedua hingga jam keempat.Namun, karena guru yang bertugas untuk mata pelajaran tersebut sakit dan guru yang menjadi team teachingnya atau mitra kerjanya juga tidak hadir, jadilah kelas X 4 mendapat bonus waktu untuk tidak belajar. Kali ini wajah sekolahku pun semakin berkerut.
Sungguh kasihan sekolahku. Diusianya yang menginjak 51 tahun, ia harus memikul dua sisi yang kian berat. Di satu sisi ia harus mencerdaskan generasi muda penerus perjuangan bangsa, menciptakan insan-insan intelektual yang akan melanjutkan pembangunan bangsa ini, dan menjadi pilar utama peningkatan mutu pendidikan di daerah ini, di sisi lain ia harus berjuang melawan penyakit yang menggerogoti nuraninya. Berbagai virus dengan karakter yang berbeda kian hari kian kuat menggigit dinding-dinding nurani tersebut. Bagaimanakah cara mengobati virus tersebut? Tuhan... berikanlah petunjuk-Mu.
                                                                                                                              (*/Mrf)

Tidak ada komentar: