Hari
Itu Wajah Sekolahku Berkerut
Hari
itu, Senin, 29 Oktober 2012. Sekolahku, SMA N 1 Watansoppeng, tetap berdiri
tegar di sudut jalan Samudra sebelum
membelok ke kanan jalan kesatria, atau ke kiri jalan Kayangan. Melewati pintu
gerbang usang karena tergerus cuaca yang kadang panas kadang dingin dengan
serbuan hujan tiba-tiba, dua guru berjenis kelamin perempuan dengan pakaian
yang berbeda, satu berpakaian warna hijau atau yang biasa akrab disebut pakaian
hansip (pertahanan sipil) dan satu lagi berpakaian seragam korpri (korps
pegawai republik Indonesia) berwarna biru muda dengan motif garuda pancasila
dan bunga melati, berdiri tegak menyambut siswa yang datang sambil mengulurkan
tangan berjabat tangan.
Menurut
daftar petugas yang tertempel di kaca kuseng ruangan tata usaha, guru yang
bertugas menyambut siswa dengan simbol 3 S (salam, senyum, sapa) pagi itu ada
lima guru. Namun, entah mengapa, yang berdiri hanya dua orang guru. Mungkin hal
inilah yang menjadikan wajah sekolahku berkerut hari ini.
Matahari
terus mendaki dinding-dinding cakrawala dan waktu pun berjalan meninggalkan kerutan-kerutan
kesedihan di wajah sekolahku. Tibalah saatnya upacara bendera dimulai. Para
siswa memasuki lapangan upacara bersama petugas upacara yang siap melaksanakan
tugasnya. Saat protokol mulai membaca susunan acara upacara bendera, terlihat
para guru dan staf tata usaha berdiri di teras ruangan guru. Meskipun upacara
hari ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya karena hari ini semua guru dan
staf tata usaha peserta upacara di haruskan menandatangani daftar hadir, namun
guru dan staf tata usaha yang ikut upacara tetap tidak mencapai angka 70% dari
jumlah guru yang 64 orang ditambah staf
tata usaha sebanyak 5 orang. Kali ini, wajah sekolahku tambah berkerut.
Selesai
upacara bendera, bel sekolah pun berteriak “ jam pelajaran pertama selesai, jam
kedua dimulai”. Artinya, siswa diharapkan masuk kelas menunggu guru yang akan
mengajar pada jam pelajaran kedua dan
ketiga. Para guru yang memiliki tugas mengajar pada jam kedua pun segera masuk
kelas. Akan tetapi, siswa kelas X 4 hari ini tidak belajar. Menurut jadwal
pelajaran yang terpampang di ruangan kurikulum, hari itu kelas X 4 belajar
fisika mulai jam kedua hingga jam keempat.Namun, karena guru yang bertugas
untuk mata pelajaran tersebut sakit dan guru yang menjadi team teachingnya atau mitra kerjanya juga tidak hadir, jadilah
kelas X 4 mendapat bonus waktu untuk tidak belajar. Kali ini wajah sekolahku pun
semakin berkerut.
Sungguh kasihan sekolahku. Diusianya
yang menginjak 51 tahun, ia harus memikul dua sisi yang kian berat. Di satu
sisi ia harus mencerdaskan generasi muda penerus perjuangan bangsa, menciptakan
insan-insan intelektual yang akan melanjutkan pembangunan bangsa ini, dan
menjadi pilar utama peningkatan mutu pendidikan di daerah ini, di sisi lain ia
harus berjuang melawan penyakit yang menggerogoti nuraninya. Berbagai virus
dengan karakter yang berbeda kian hari kian kuat menggigit dinding-dinding
nurani tersebut. Bagaimanakah cara mengobati virus tersebut? Tuhan...
berikanlah petunjuk-Mu.
(*/Mrf)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar