Yang Pop dan Uptodate

Senin, 25 Oktober 2010

ARTIKEL

MEMBUAT DAN MENGGUNAKAN MEDIA PEMBELAJARAN
      BERBASIS ICT UNTUK PEMBELAJARAN MENYIMAK
                                                           Oleh: Muhammad Arifai, S.P

A. Pendahuluan
Dalam materi pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat sekolah menengah atas,
terdapat empat aspek keterampilan berbahasa yang pada umumnya harus dikuasai oleh siswa. Salah satu di antara keempat aspek ketermpilan berbahasa tersebut, yakni menyimak. Pembelajaran menyimak sering mengalami kendala dalam penyajiannya di kelas. Kendala tersebut antara lain : (1) Media pembelajaran yang berupa menyimak berita, wawancara, laporan peristiwa, dsb tidak dimiliki oleh guru, dan belum pernah dibuat, padahal materi pembelajaran tersebut terdapat dalam silabus bahasa Indonesia; (2) Pembuatan media pembelajaran yang itu, membutuhkan kemampuan yang kompleks dan relatif tinggi, khususnya bidang software & hardware komputer; (3) Bila pembelajaran menyimak disampaikan hanya dengan metode pemberian tugas, misalnya menyimak berita dari TV, siswa dan guru kesulitan menemukan stasiun TV mana yang akan menyampaikan topik tertentu, pada hari apa dan jam berapa, karena banyak stasiun TV; (4) Siswa sering tidak melaporkan tugas tersebut, guru juga seringkali terlewatkan acara TV tersebut sehingga pembahasan menjadi tidak efektif; (5) Jika materi menyimak disajikan dengan metode ceramah, pembelajaran menjadi ’teacher centered’ siswa hanya medengarkan saja materi pembelajaran tidak menarik perhatian siswa dan membosankan.
Untuk mengatasi kendala tersebut, diperlukan sebuah media pembelajaran yang baik dan menarik seperti media pembelajaran berbasis ICT. Berdasarkan hal tersebut, yang menjadi permasalahan dalam penulisan ini adalah: (1) Bagaimanakah pembuatan media pembelajaran menyimak yang berbasis ICT ? (2) Bagaimanakah penggunaan media pembelajaran berbasis ICT dalam pembelajaran menyimak?
Kata kunci : media pembelajaran berbasis ICT, pembelajaran menyimak
B. Membuat Media Pembelajaran Berbasis ICT
Perkembangan teknologi komputer dan informasi (ICT) juga semakin mengembangkan bentuk dan variasi media pembelajaran. Menurut Thomson (Elida dan Nugroho, 2003) komputer yang digunakan dalam pembelajaran dapat memberikan manfaat, yakni saat digunakan komputer meningkatkan motivasi pembelajaran. Para siswa akan menikmati kerja komputer ini dan komputer memberikan tantangan di samping komputer menampilkan perpaduan antarteks, gambar, animasi gerak, dan suara secara bersamaan maupun bergantian.
Menurut Luther (dalam Sutopo, 2003:32) ada tujuh tahap dalam pengembangan media pembelajaran berbasis computer (ICT), yaitu:
a. Tahap pertama konsep, yaitu mengidentifikasikan tujuan, kebutuhan belajar, atau hal-hal lain yang perlu diungkapkan;
b. Tahap kedua analisis karakteristik siswa, yaitu disesuaikan dengan minat, bakat, dan kemampuan siswa;
c. Tahap ketiga merencanakan dan menyusun software;
d. Tahap keempat desain, yaitu tahap merancang produk secara rinci
e. Tahap kelima pengumpulan bahan;
f. Tahap keenam pembuatan, yaitu menyusun naskah materi pada setiap frame sehingga menjadi sebuah produk media yang sudah jadi;
g. Tahap ketujuh uji coba, yaitu melakukan uji coba produk yang akan digunakan secara luas karena itu perlu validasi kelayakannya.
Berpedoman pada hal tersebut di atas ditambah dengan pengalaman penulis mengikuti pendidikan dan latihan pembuatan media pembelajaran berbasis ICT yang diselenggarakan oleh Sistem Sekolah Cerdas Indonesia (SSCI) bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, penulis membuat media pembelajaran berbasis ICT. Media pembelajaran tersebut adalah menyimak berita dari TV, dengan cara merekam berita dari TV dengan menggunakan aplikasi windows movie maker pada komputer/laptop. Selanjutnya, hasil rekaman tersebut diinsert ke dalam slide power point lalu dicopy ke dalam CDR. Selain itu, juga dibuat media pembelajaran menyimak laporan peristiwa, menyimak wawancara, diskusi, dan drama, dengan cara yang sama seperti yang diuraiakan sebelumnya.
C. Menggunakan Media Pembelajaran Berbasis ICT dalam Pembelajaran Menyimak

Untuk menggunakan media pembelajaran berbasis ICT, misalnya dalam kegiatan pembelajaran menyimak, hanya dibutuhkan laptop dan LCD proyektor ditambah dengan CDR yang berisi media pembelajaran yang sudah dibuat seperti di atas. Masukkan CDR ke laptop lalu hubungkan laptop dengan LCD proyektor. Langkah selanjutnya, silahkan operasikan seperti pada saat akan mempresentasik materi pembelajaran dengan power point.
Bagi guru yang sudah mahir menggunakan computer, tentu tidaklah terlalu sulit dalam menggunakan media pembelajaran tersebut. Namun, bagi rekan guru yang masih setengah-setengah atau belum terlalu mahir, dapat meminta bantuan rekan guru yang lain untuk dilatih terlebih dahulu dalam menggunakan presentasi dengan power point.
D. Simpulan dan Saran
Dari uraian yang dikemukakan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa pembuatan media pembelajaran berbais ICT tidaklah terlalu sulit dan berbelit. Hanya dibutuhkan komputer jinjing/laptop, lalu keterampilan menggunakan aplikasi windows movie maker. Untuk penggunaannya di kelas, padukan laptop dengan LCD proyektor lalu tampilkanlah dalam bentuk power point. Dengan demikian, disarankan kepada rekan-rekan guru agar senantiasa memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dalam kegiatan pembelajaran demi mewujudkan kegiatan belajar mengajar yang inovatif untuk peningkatan hasil belajar siswa dan mutu pendidikan di negara kita.
Daftar Pustaka
Sardiman, Arief S. dkk. 2006. Media Pendidikan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Soeparno. 2005. Media Pengajaran Bahasa. Jakarta: PT. Intan Pariwara.
Suyatno.2007. Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya : SIC.

Suyono.2007. Cerdas Berpikir Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Ganeca Eaxct.

Tarigan, Henry Guntur. 2006. Teknik Pengajaran Ketrampilan Menyimak. Bandung : Angkasa.

SMA N 1 Watansoppeng Menuju SKM/SSN

Alhamdulillah, SMA N 1 Watansoppeng hingga tahun 2010 ini sudah 3 tahun menjalani rintisan sekolah kategori mandiri (RSKM. Artinya, Insya Allah, tahun depan sudah menjadi sekolah kategori mandiri (SKM.Untuk menuju ke SKM, telah banyak kegiatan yang dilakukan sebagai upaya menjadi sekolah kategori mandiri. Salah satu kegiatan tersebut adalah pemenuhan 8 SNP (Standar Nasional Pendidikan).
Pemenuhan 8 SNP ditempuh dengan melalui kegiatan analisis konteks. Analisis tersebut bertujuan mengetahui sejauh mana pencapaian SNP tersebut. Hal itulah yang saat ini sedang saya lakukan di tempat pelatihan "Grand Palace" di Makassar. Pelatihan ini berlangsung dari tanggal 23 s.d. 26 Oktober 2010. Hasilnya, selain lelah dan peluh, juga hasil pekerjaan tugas yang lumayan banyaknya. Di antaranya yaitu analsis standar isi (SI), standar proses, standar penilaian, pengelolaan, SKL, dsb.

Variasi dan Ragam Bahasa


VARIASI RAGAM BAHASA

Variasi-variasi bahasa dapat dilihat dari dua segi, yakni dari segi diakronis dan segi sinkronis.

Segi diakronis yaitu berdasarkan tahap-tahap perkembangan bahasa Indonesia dari waktu ke waktu.

Segi Sinkronis yaitu variasi-variasi bahasa dilihat dari dimensi daerah (geografis), dimensi sosial ( sosialek), dimensi psikis dan fisik penutur, dimensi kebutuhan, dan dimensi menyangkut pembicara, tempat berbicara, bidang pembicaraan, suasana/situasi pembicaraan.

1. Dialek Geografis (dialek regional)

yaitu variasi-variasi bahasa yang timbul karena perbedaan asal penuturnya.

2. Dialek Sosial (sosialek)

yaitu variasi-variasi bahasa yang disebabkan oleh perbedaan kelas sosial penuturnya.

3. Idiolek

yaitu variasi-variasi bahasa yang timbul karena faktor fisik maupun psikis yang dimiliki oleh penutur.

4. Register

yaitu variasi-variasi bahasa yang disebabkan oleh kebutuhan pemakaian yang berbeda-beda. Misalnya bahasa berita, bahasa ulasan atau tajuk rencana, dan bahasa iklan.

5. Ragam Bahasa

yaitu variasi-variasi bahasa yang disebabkan oleh perbedaan-perbedaan dari segi pembicara, tempat berbicara, pokok atau bidang pembicaran, suasana/situasi pembicaraan.

Jenis-jenis Ragam Bahasa Indonesia

1. Ragam Ringkas dan Ragam Lengkap

2. Ragam Baku dan Ragam Nonbaku

Ragam baku adalah ragam bahasa yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar masyarakat pemakainya sebagai kerangka rujukan norma atau kaidah bahasa dalam pemakaian.

Ragam baku berisi rujukan yang menentukan benar tidaknya pemakaian bahasa, baik ragam lisan maupun ragam tulisan.

Ragam nonbaku selalu ada kecenderungan untuk menyalahi norma/kaidah bahasa yang berlaku. Hal ini disebabkan ragam bahasa nonbaku lebih cenderung mementingkan fungsi komunikasinya dalam suasana santai daripada mementingkan kebenaran pemakaian kaidah bahasa. Sementara itu, dalam suasana resmi selain fungsi komunikasi juga dipentingkan kebenaran kaidahnya.

3. Ragam Lisan dan Ragam Tulisan

Kesatuan dasar ragam lisan adalah bunyi bahasa sedangkan kesatuan dasar ragam tulisan adalah huruf.

4. Ragam Pandangan Penutur

Ragam bahasa dilihat dari sudut pandangan penutur adalah:

a. Daerah/Logat

Logat daearah paling kentara karena tata bunyinya. Misalnya logat Tapanuli (tekanan kata yang amat jelas); logat Bali (bunyi /t/); logat Jawa (bunyi /d/).

b. Pendidikan

Tata bunyi bahasa Indonesia (fonologi) golongan kaum berpendidikan berbeda dengan kaum yang tidak berpendidikan. Misalnya bunyi /f/ dan gugus konsonan /ks/, tidak selalu terdapat dalam ujaran orang yang tidak atau hampir tidak bersekolah. Bentuk fakultas, film, fitnah, kompleks, rileks, maksimum, diucapkan pakultas, pilem, pitenah, komplek, riles, massimum.

Senin, 01 Februari 2010

Apa Pendapat Kamu?


Kejujuran adalah kunci keberhasilan. Ungkapan itu bukanlah suatu basa-basi belaka tetapi merupakan petuah bagi generasi seakarang dan mendatang agar senantiasa berlaku jujur kapan pun dan dimanapun berada.
Saat ini negara kita sudah semakin tua dengan ketidakjujuran. Rakyat pun sudah muak dengan ketidakjujuran. Buktinya, banyak masyarakat yang sudah tidak percaya dengan janji-janji poliitik yang kerap dilontarkan orang-orang yang memiliki tujuan dan kepentingan tertentu.
Lalu, bagaimana dengan siswa sebagai generasi penerus kepemimpinan di negeri ini?Jawabnya ada pada Anda yang merasa perlu dan mau jadi pemimpin di masa depan.

Rabu, 12 Agustus 2009

STRATEGI PEMBELAJARAN


STRATEGI PAKEM DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA
Oleh: Muhammad Arifai, S.Pd

A. Pendahuluan
Tidak dapat dipungkiri bahwa kita yang hidup di tengah-tengah arus teknologi informasi yang dahsyat dituntut untuk dapat membaca dan menyerap informasi yang setiap hari menyerbu kita. Berpuluh-puluh koran dan majalah tidak pernah jemu-jemu menyodorkan informasi untuk dibaca. Bahkan dengan kemajuan teknologi informasi sekarang ini, melalui internet kita sudah dapat mengakses informasi dari berbagai belahan dunia dalam waktu singkat tanpa harus meninggalkan tempat duduk kita. Semua kegiatan tersebut tentu memerlukan kegiatan membaca, seperti membaca cepat.
Harras dan Lilis, S. (2003 : 1) mengemukakan bahwa membaca menduduki posisi serta peran yang sangat penting dalam konteks kehidupan umat manusia, terlebih pada era informasi dan komunikasi seperti sekarang ini. Membaca juga merupakan jembatan bagi siapa saja dan di mana saja yang berkeinginan meraih kemajuan dan kesuksesan, baik di lingkungan dunia persekolahan maupun di dunia pekerjaan. Oleh karena itu, para pakar sepakat bahwa kemahiran membaca merupakan prasyarat mutlak bagi setiap insan yang ingin beroleh kemajuan.
Kegiatan membaca merupakan kegiatan berkomunikasi yang penting dan harus dikuasai oleh setiap siswa. Kegiatan membaca setiap hari digunakan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), terdapat materi pembelajaran membaca cepat pada setiap tingkatan atau kelas. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan membaca cepat merupakan kegiatan membaca yang perlu dan penting dikuasai oleh setiap siswa. Namun, terkadang guru menyajikan pembelajaran membaca cepat tanpa memperhatikan aspek kreatif, efektif, dan menyenangkan. Akibatnya, siswa merasa jenuh mengikuti kegiatan pembelajaran dan pembelajaran pun berlangsung tanpa menghasilkan tujuan yang ingin dicapai. Pembelajaran membaca cepat dikatakan berhasil apabila siswa dapat membaca 300 – 350 kata per menit (Kpm) dan memahami isi bacaan yang berupa : mampu menemukan ide pokok setiap paragraf, menemukan informasi tertentu, dan menjawab pertanyaan bacaan dengan benar minimal 75 %. Untuk itu, perlu diupayakan strategi pembelajaran membaca cepat yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan guna mencapai tujuan tersebut.
Kata kunci: Strategi Pakem dalam pembelajaran membaca.


B. Pengertian Strategi dan PAKEM
Kata strategi menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus. Sedangkan Pakem berarti Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan.
Menurut Pusat Pengembangan Sekolah Efektif (P2SE) UNM (2007), kata aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan memiliki pengertian yaitu: aktif, maksudnya guru aktif memantau kegitan belajar siswa, memberi umpan balik, mengajukan pertanyaan terbuka, dan menanyakan gagasan siswa. Sedangkan bagi siswa kata ”aktif” itu bermakna mengajukan perertanyaan, mengemukakan gagasan, mempertanyakan gagasan orang lain, terlibat secara mental, dan melakukan percobaan.
kreatif, maksudnya guru mengembangkan kegiatan yang beragam, memberi tugas yang bervariasi, menerapkan teknik curah pendapat, dan mengembangkan berpikir divergent. Sedangkan untuk siswa, kata ”kreatif” berarti siswa merancang sesuatu, membuat karya, menulis gagasan, mengarang, dan menemukan sendiri.
Selanjutnya, kata efektif bagi guru adalah mencapai tujuan pembelajaran dan memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM). Untuk siswa, kata ”efektif” dimaksudkan menguasai kompetensi dasar dan menguasai keterampilan yang diperlukan. Kata menyenangkan untuk guru, berarti tidak membuat anak atau siswa takut salah, takut ditertawakan, takut disepelekan, dan menciptakan suasana yang kondusif yaitu hidup, hangat, dan menghargai. Sedangkan untuk siswa, kata ”menyenangkan” berarti berani mencoba, berani bertanya, berani mengemukakan pendapat, berani berbeda pendapat, dan bergairah mengikuti kegiatan belajar.
Berdasarkan uraian tersebut dapat dikatakan bahwa kegiatan pembelajaran aktif jika dalam kegiatan pembelajaran tersebut, siswa bertindak sebagai subjek dan guru hanya bertindak sebagai fasilitator. Dikatakan kreatif jika dalam kegiatan pembelajaran terdapat hal-hal baru yang diciptakan oleh guru yang menjadikan siswa lebih mudah menyerap materi pembelajaran yang disajikan. Sedangkan efektif berarti hasil yang dicapai dalam kegiatan pembelajaran tersebut sesuai dengan yang diinginkan atau diharapkan yakni mencapai ketuntasan, dan menyenangkan yang berarti siswa merasa senang dan tidak takut-takut dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Untuk menghasilkan kegiatan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, dalam kegiatan pembelajaran seperti membaca cepat, perlu dilakukan perencanaan yang cermat dengan memperhatikan maksud dari setiap kata yang membentuk akronim Pakem tersebut.


C. Strategi PAKEM dalam Pembelajaran Membaca

Silitonga,dkk. (1984: 8) mengemukakan bahwa keberhasilan pengajaran membaca ditentukan oleh dua faktor dominan yaitu: (1) faktor dari dalam diri siswa sendiri seperti minat, perhatian, kematangan siswa, dan sikap sosial; (2) faktor dari luar siswa seperti lingkungan sekitarnya, situasi, kondisi sosial, ekonomi, keluarga, kondisi sekolah, dan kondisi program pengajaran membaca.
Berdasarkan hal itulah maka dalam pembelajaran membaca di sekolah seharusnya guru memperhatikan kedua faktor tersebut seperti minat dan perhatian siswa, serta kondisi program pengajaran membaca. Salah satu upaya ke arah pemenuhan faktor-faktor tersebut adalah menerapkan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM). Pembelajaran membaca cepat yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. menuliskan kompetensi dasar (KD) yang akan dicapai beserta indikatornya.
2. membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil (satu kelompok dua orang).
3. menugaskan kepada setiap kelompok untuk mencari bacaan di internet.
4. menuliskan petunjuk penelusuran melalui Internet dengan cara:
a. menuliskan alamat situs web pada address bar Serch Engine.
Misalnya:
http://www.google.com;
http://iteslj.org/links;
b. Menuliskan kata kunci pada bagian pencarian search engine.
Misalnya: Teks Perkembangan Iptek.
5. menyediakan stopwatch (HP yang memiliki stopwatch) bagi setiap kelompok untuk digunakan mengukur waktu membaca teks di internet.
6. setiap kelompok mencatat waktu baca anggota kelompoknya secara bergantian dengan diawasi oleh guru mata pelajaran.
7. mencatat atau menulis ide pokok setiap paragraf yang dibaca.
8. membuat pertanyaan tentang isi teks yang dibaca.
9. menyimpulkan isi teks yang dibaca.
10. menyampaikan di depan kelas hasil pekerjaan tersebut untuk ditanggapi oleh siswa (kelompok) lainnya.
Dengan penerapan langkah-langkah yang disebutkan di atas dalam pembelajaran membaca seperti membaca cepat, siswa akan aktif menemukan sendiri teks bacaan yang disenanginya, aktif membaca dan menemukan ide pokok dan intisari bacaan. Selain itu, siswa juga memiliki kreativitas menemukan bacaan dan mendownload teks bacaan dari internet.


D. Simpulan dan Saran
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan pembelajaran aktif jika dalam kegiatan pembelajaran tersebut, siswa bertindak sebagai subjek dan guru hanya bertindak sebagai fasilitator. Dikatakan kreatif jika dalam kegiatan pembelajaran terdapat hal-hal baru yang diciptakan oleh guru yang menjadikan siswa lebih mudah menyerap materi pembelajaran yang disajikan. Sedangkan efektif berarti hasil yang dicapai dalam kegiatan pembelajaran tersebut sesuai dengan yang diinginkan atau diharapkan yakni mencapai ketuntasan, dan menyenangkan yang berarti siswa merasa senang dan tidak takut-takut dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Pembelajaran membaca cepat yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. menuliskan kompetensi dasar (KD) yang akan dicapai beserta indikatornya.
2. membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil (satu kelompok dua orang).
3. menugaskan kepada setiap kelompok untuk mencari bacaan di internet.
4. menuliskan petunjuk penelusuran melalui Internet dengan cara:
a. menuliskan alamat situs web pada address bar Serch Engine.
Misalnya:
http://www.google.com;
http://iteslj.org/links;
b. Menuliskan kata kunci pada bagian pencarian search engine.
Misalnya: Teks Perkembangan Iptek.
5. menyediakan stopwatch (HP yang memiliki stopwatch) bagi setiap kelompok untuk digunakan mengukur waktu membaca teks di internet.
6. setiap kelompok mencatat waktu baca anggota kelompoknya secara bergantian dengan diawasi oleh guru mata pelajaran.
7. mencatat atau menulis ide pokok setiap paragraf yang dibaca.
8. membuat pertanyaan tentang isi teks yang dibaca.
9. menyimpulkan isi teks yang dibaca.
10. menyampaikan di depan kelas hasil pekerjaan tersebut untuk ditanggapi oleh siswa (kelompok) lainnya.
Berdasarkan simpulan di atas disarankan kepada setiap rekan guru untuk senantiasa mengupayakan pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (Pakem). Kegiatan pembelajaran yang Pakem dapat diterapkan pada semua materi pembelajaran. Oleh karena itu, ada baiknya setiap guru mata pelajaran berusaha menciptakan kegiatan pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan atraktif sehingga siswa akan senantiasa termotivasi mengikuti kegiatan pembelajaran yang kita laksanakan.

Daftar Pustaka
Harras, K.A. dan Lilis Sulistianingsih, 2003. Materi Pokok Membaca 1.
Jakarta : Universitas Terbuka.
P2SE. 2007. Pelaksanaan PAKEM di Sekolah. Makassar: UNM Makassar.
Salam. 2007. Keterampilan Menulis. Bahan Ajar. Makassar: FBS UNM.
Silitonga,M.,dkk., 1984. Kemampuan Berbahasa Indonesia Siswa Kelas III
SMP Sumatra Utara : Membaca dan Menulis. Jakarta : Depdikbud.
Soedarso, 2004. Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta : PT Gramedia




MODEL PEMBELAJARAN


MENDONGENG SEBAGAI MODEL PEMBELAJARAN APSI
Oleh: Muhammad Arifai, S.Pd
Guru SMA Negeri 1 Watansoppeng


A. Pendahuluan
Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang berlangsung dengan mudah dan menarik bagi siswa sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan baik dan mudah. Untuk menghasilkan pembelajaran yang efektif diperlukan berbagai cara atau model yang tepat dan menarik. Salah satu model pembelajaran yang dimaksud adalah mendongeng. Mendongeng merupakan kegiatan menyampaikan cerita atau dongeng kepada siswa. Melalui dongeng, siswa dapat belajar menentukan unsur yang membangun sebuah sastra misalnya: alur, watak, atau tema cerita.
Dalam dunia sastra Indonesia, terdapat berbagai jenis hasil karya sastra lama yang masih tetap eksis sampai sekarang. Salah satunya adalah dongeng. Dongeng adalah salah satu hasil karya sastra Indonesia yang berbentuk prosa, seperti roman, novel, dan cerpen. Dalam dongeng terdapat berbagai pelaku yang dikisahkan memiliki watak atau karakter tertentu. Misalnya dongeng tentang si Kancil dan Buaya, Pelanduk yang Cerdik atau dongeng Pak Belalang. Dongeng tersebut bersifat menghibur dan dapat memberi pendidikan, terutama pendidikan moral kepada anak didik. Dengan demikian, tepatlah kiranya jika mendongeng dijadikan sebagai model pembelajaran dalam kegiatan pembelajaran sastra Indonesia di sekolah.
Kata kunci: mendongeng, model pembelajaran sastra Indonesia.


B. Dongeng dan Sastra Indonesia
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dongeng ialah cerita yang tidak benar-benar terjadi. Ia adalah cerita rekaan yang kebenarannya belum dapat dipastikan. Sedangkan menurut James Dananjaja dalam Folklor Indonesia bahwa dongeng termasuk jenis cerita pendek kolektif kesastraan lama. Dananjaja berpendapat kalau sebuah dongeng itu tidak dianggap benar-benar terjadi. Dongeng hanya diceritakan untuk menghibur. Pendapat yang senada juga dikemukakan oleh Wiyanto (2005: 58) yakni dongeng adalah cerita khayal yang tidak masuk akal. Cerita dalam dongeng tidak pernah terjadi dan tidak mungkin terjadi.
Berdasarkan isinya, dongeng dapat diklasifikasikan menjadi: (1) Cerita binatang (fabel), yaitu dongeng yang mengisahkan tentang binatang yang dapat berbicara, bisa berpikir, punya cita-cita, seperti manusia. Dengan kata lain, binatang itu sebenarnya cerita tentang kehidupan manusia yang tokoh-tokohnya binatang. (2) Cerita jenaka, yaitu dongeng yang berisi cerita yang dapat menggelitik karena lucu. Tokoh yang diceritakan orang bodoh atau bloon, orang malas, atau orang cerdik seperti si Kabayan. (3) Legenda, yaitu dongeng yang berkaitan dengan nama suatu tempat (kota, gunung, sungai, dan lain-lain). Ceritanya dicari-cari yang pada akhirnya menjadi sebab munculnya nama tempat yang diceritakan itu. Misalnya dongeng tentang asal mula nama Banyuwangi, Gunung Pattiro Sompe, asal mula Ompo, dan sebagainya. (4) Mite, yaitu dongeng yang mengisahkan tentang dewa-dewa, makhluk halus, dan hal-hal gaib lainnya yang berhubungan dengan kepercayaan masyarakat tempat cerita itu berkembang. Misalnya ceirta tentang Nyi Roro Kidul (Ratu Laut Selatan), dan Pertempuran di Prambanan dan Letusan Gunung Merapi. (5) Sage, adalah dongeng yang mengandung unsur sejarah. Akan tetapi, unsur sejarahnya amat sedikit jika dibandingkan dengan tambahannya yang bersifat aneh, luar biasa, dan dahsyat. Sering pula ceritanya mengandung unsur kepahlawanan. Misalnya: Pararaton (menceritakan Ken Arok), dan Tutur Tinular (menceritakan pahlawan Majapahit). (6) Parabel, adalah dongeng perumpamaan yang biasanya berisi unsur pendidikan tentang kesusilaan atau keagamaan. Misalnya dongeng ”Damarwulan”, dan ”Cerita Sepasang Selop Putih”.
Dongeng merupakan salah satu hasil karya sastra Indonesia yang tidak hanya berfungsi untuk menghibur tetapi juga dapat berfungsi untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan kepada siswa melalui kegiatan pembelajaran di sekolah.


C. Mendongeng sebagai Model Pembelajaran Apresiasi Sastra Indonesia (Apsi)
Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, seringkali guru dihadapkan pada situasi sulit untuk menjadikan siswa mudah mengerti atau memahami materi yang disajikan. Begitu pula halnya dalam pembelajaran sastra Indonesia utamanya pada kompetensi dasar menentukan unsur intrinsik dan ekstrinsik karya sastra. Pada situasi seperti itulah dibutuhkan model pembelajaran yang efektif dan menarik sehingga siswa tidak hanya dapat tertarik mengikuti pembelajaran tetapi juga dapat dengan mudah memahami materi pembelajaran yang disajikan.Untuk mengatasi hal tersebut, salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru adalah mendongeng.
Mendongeng merupakan model pembelajaran yang efektif dan menarik digunakan dalam pembelajaran sastra seperti menentukan unsur intrinsik novel atau cerpen. Melalui dongeng yang disampaikan oleh guru, siswa akan dengan mudah memahami unsur intrinsik sastra seperti alur atau jalan cerita, penokohan atau watak pelaku, latar atau tempat kejadian cerita, amanat atau pesan yang terdapat dalam cerita tersebut, tema cerita, dan gaya bahasa yang digunakan. Selain itu, siswa juga akan mudah mengenal nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah karya sastra seperti nilai pendidikan, moral, sosial, dan sebagainya.
Guru dapat memilih berbagai jenis dongeng untuk diceritakan kepada siswa di depan kelas. Misalnya dongeng ” Si Kancil dan Buaya” atau ”Pak Belalang”. Dongeng tersebut berisi kisah yang menarik dan lucu dan mudah dipahami oleh siswa. Apalagi jika dibawakan dengan bahasa atau intonasi yang bervariasi disertai dengan gambar visual atau boneka. Dengan demikian, siswa akan tertarik mengikuti kegitan pembelajaran dan tidak mudah mengantuk. Meskipun ada sindiran yang disampaikan melalui dongeng, siswa tidak langsung merasa disindir. Bahkan, siswa diminta menilai sendiri sebuah kebenaran atau pendidikan dalam dongeng yang diperdengarkan, seperti pada dongeng “Sampuraga” yang berkisah tentang si anak durhaka. Durhaka kepada orang tua akan mendatangkan malapetaka, merupakan pesan moral yang ingin disampaikan kepada siswa.

D. Simpulan dan Saran
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dongeng dapat dijadikan media pembelajaran apresiasi sastra Indonesia. Mendongeng merupakan model pembelajaran yang efektif dan menarik digunakan dalam menyajikan materi pembelajaran sastra Indonesia di kelas. Melalui kegiatan mendongeng, siswa akan mudah memahami unsur intrinsik sastra seperti tema, alur, latar, penokohan, amanat, sudut pandang, dan gaya bahasa. Juga unsur ekstrinsik sastra, yaitu nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah karya sastra seperti nilai pendidikan, moral, sosial, atau keagamaan.
Untuk itulah, disarankan kepada rekan-rekan guru agar senantiasa berupaya menggunakan model pembelajaran yang efektif dan menarik atau menyenangkan dalam setiap kegiatan pembelajaran, demi meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa di sekolah.
Daftar Pustaka
Depdikbud, 1995. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Herman. Mendongeng sebagai Metode Pembelajaran. Suara Tinta. Edisi 12 Juli 2007
http://www.vanillamist.com/.
Tang, Muhammad Rapi, 2004. Apresiasi Puisi, Prosa Fiksi, dan Drama Indonesia : Suatu Tinjauan Umum. Makassar : Universitas Negeri Makassar.
Wiyanto, Asul. 2005. Kesusastraan Sekolah. Jakarta: PT Grasindo.


Kamis, 06 Agustus 2009

PUISIKU



HUJAN, ANGIN DAN BADAI
Karya: M. Arifai, S.Pd
(Guru SMA N 1 Watansoppeng)
Aku adalah hujan yang senantiasa mengguyur
menumbuhkan tunas-tunas muda harapan bangsa.
Aku adalah angin yang akan menerbangkan tirai penghalang
yang menyelubungi hati dan jiwamu
agar cahaya kemuliaan menyinari pekatnya pikiranmu.
Aku adalah badai yang siap mengangkat sosokmu
menembus gelapnya mega, melintasi samudra biru
menuju tempat terhormat seperti yang kamu impikan.
Akulah hujan, angin dan badai
berkelana di gurun-gurun sahara
menyelinap di antara pepohonan dalam rimba raya
berenang di sela-sela ombak pasifik
mengumpulkan pernak-pernik kehidupan
menggulung intisari peradaban
meramu dalam satu aliran
mengalir di antara denyut nadimu
Yang tak pernah berhenti berdetak
mengiringi langkah dalam jejak
memahami makna setiap semester waktu
merangkum dalam setiap kisaran masa
yang kadang meninggalkan sejumlah teka-teki.







AKHIR SEBUAH TEKA-TEKI
Karya: M. Arifai, S.Pd
(Guru SMA N 1 Watansoppeng)
Mendung yang menggantung
adalah lukisan perasaan kami
Guruh yang menggemuruh
adalah suara hati kami
Gerimis yang menetes
adalah ungkapan hati perasaan kami dalam sebuah teka-teki.
angin yang beku
dedaunan yang kaku
mulut yang membisu
terpasung oleh ragu
dalam pusaran waktu
karena sebuah teka-teki yang mengharu biru.
Mendung yang menggantung itu teka-teki
guruh yang menggemuruh itu teka-teki
gerimis yang menetes adalah jawaban teka-teki.
Manusia yang membuat pemimpin dan ikut dipimpin menyimpan teka-teki
hendak ke mana, ada di mana, dan di kemanakan
adalah teka-teki yang datang dan perginya tak terkirakan
seperti teka-teki yang selalu mencari jawaban
begitulah takdir yang sulit menemukan jawaban.








Kesatria Pendidik
Karya: M. Arifai, S.Pd
(Guru SMA N 1 Watanoppeng)

Anak-anakku,
bila esok engkau pergi dan melewati jalan yang sama
Tengoklah ke gedung sekolah disudut jalan yang andal nan unggul itu
di situlah pernah mengabdi seorang kesatria pendidik selama 29 tahun
menabur benih-benih prestasi di hati anak-anak harapan bangsa
menyemai bibit-bibit unggul pelanjut masa depan bangsa
menumbuhkan tunas-tunas muda mencapai masa depan yang gemilang.

Tapi anak-anakku,
jangan heran kalau gedung sekolah itu kini tidak semeriah dulu lagi
kesatria pendidik itu kini tak ada lagi di gedung itu
ia kini telah mengabdi di tempat lain yang jauh dari kita
Jangan ditanya mengapa, anak-anakku,
juga jangan meringis dan mengeluarkan nada penyesalan.
Beliau pergi bukan karena tak sayang lagi pada kita
Beliau menjauh dari kita juga bukan karena perasaan benci
Beliau tinggalkan kita karena sebuah tugas mulia
untuk melanjutkan menabur benih-benih prestasi di hati anak-anak bangsa
menyemaikan bibit-bibit unggul generasi pelanjut
menumbuhkan tunas-tunas muda yang unggul dalam mutu, berbudaya, dan berimtak.

Anak-anakku mestinya bersyukur
karena beliau yang selama ini kita banggakan
yang telah banyak memberikan kebaikan pada kita
masih lebih dibutuhkan tenaga dan pikirannya di tempat lain
yang penting bagi kita anak-anakku,
janganlah pernah lupa pesan beliau untuk tetap bersemangat
belajar, belajar, dan belajar.
Beliau memang telah jauh dari kita
tapi canda tawanya masih tetap terngian di telinga
teguran kasih sayangnya tetap membekas di hati
kebijakan-kebijakannya tetap terasa, hingga kita pun merasa...
jauh di mata dekat di hati.

LURUH DALAM DOA
Karya: M. Arifai, S.Pd
(Guru SMA N 1 Watansoppeng)

Masa demi masa digubah dalam untaian waktu dan cita
Jenjang demi jenjang telah terlampaui dengan pasti
Tiga masa dalam jenjang yang kian meningkat
Mampukah mengikat asa dalam cita dan cinta
Dalam dekapan maya terbersit angan yang mewujud
Menggelora dalam samudra kalbu
Menyeruak di antara karang-karang angkuh
Membentuk butiran-butiran nurani yang luruh dalam doa
untuk Bapak – Ibu pendidik kami
Ya Rahman, ya Rahim, ya Karim
Anugerahkanlah kepada para pendidik kami kearifan
agar senantiasa mendidik kami dalam kesalehan
Berikanlah mereka petunjuk-Mu
dalam mendidik kami menjadi penerus cita-cita bangsa
Ya Qawiyyu, Ya Waliyu
Karuniakanlah kekuatan kepada para pengasuh kami
agar mereka tetap mengasuh, mengasah, dan mengasihi kami
meski kadang kami berperilaku menjengkelkan mereka
Jauhkanlah segala gangguan dari mereka
hingga mereka selalu menjalankan tugas pengabdiannya
mengurusi kami setiap saat setiap waktu
meski mereka terkadang tak terurus dan diurus
Berilah kesempatan kepada kami untuk berbakti
menunjukkan kepada mereka, kepada bangsa dan negara kami
bahwa mereka tidak sia-sia mendidik dan mengurus kami selama ini
mampukanlah kami membalas budi baik mereka
hingga mereka tak lagi harus berpeluh dan berselimut debu jalanan
Ya gaffaru, Ya gofur
Ampunilah segala dosa mereka
Ampunilah juga dosa-dosa kami yang teramat sangat
memenuhi otak dan pikiran kami
hingga membuat kami jadi pembangkang, pemberang, dan penentang
Karena izin-Mulah kami ada
dan atas iradah-Mu kami menjadi tiada
Jadikanlah keberadaan kami kebahagiaan bagi mereka
dan ketiadaan kami sebagai kenangan yang membanggakan isi dunia.






Bulan Masih Penuh
Ketika malam terlelap di pangkuan rembulan
Bintang memainkan simponi dengan cahaya
Awan tak kuasa melawan kehendak angin
Berdansa dan menari kian kemari.
Sesosok bayangan tak bergerak memandangi bulan

bulan itu masih penuh
seperti dulu kala sosok itu duduk memandanginya
dari balai-balai bambu teras rumahnya yang beratap cahaya bulan
ketika anak istrinya terlelap bersama malam. Dan seperti dulu
ia menggenggam catatan kredit dari koperasi tempatnya mengabdi
yang terjatuh dari lembaran silabus
Ketika hendak melihat kompetensi yang hendak diajarkan esok hari.

Bulan masih penuh
Tak seperti kantongku yang bolong sejak kemarin. Ah… tak mengapa.
Esok aku harus mengajarkan materi ini lalu mengejar materi lain
seperti awan yang tak pernah jemu mengejar sang bulan.
(M. Arifai, S.Pd, Maret 2009)