Yang Pop dan Uptodate

Senin, 18 Februari 2013

Puisi



Smansaku kebangganku
karya: M.H.A. Rifai

Smansaku kebangganku,
empat puluh delapan tahun dalam realita
mengabdi dalam peluh menegakkan pilar-pilar pendidikan
berjuang menyokong peningkatan mutu generasi bangsa
mencetak generasi pelanjut pembangunan
membentuk insan yang beriman, bertakwa, bermutu, dan berbudaya
menyongsong era tinggal landas menembus batas horison.

Smansaku kebanggaanku,
di usiamu yang empat puluh delapan tahun,
keberadaanmu senantiasa tegar dan segar
menyalakan cahaya keimanan-ketakwaan di hati para siswa
mengaktifkan sinyal-sinyal peningkatan mutu dalam otak setiap siswa
membentuk citra budaya lokal dengan pemikiran global di benak para siswa

Smansaku kebanggaanku
di kala usiamu menjelang setengah abad, usahamu kian cemerlang
merajut benang-benang ilmu hari demi hari
merangkai lembar-lembar pengabdian minggu demi minggu
membentuk layar-layar prestasi  mengarungi samudera pendidikan
mengantar siswa-siswamu menuju ke pulau kesuksesan
membangun mahligai karya nyata
mengulas senyum kebahagiaan sepanjang masa.

Smansaku kebangganku,
apa yang harus kuperbuat untukmu
denganmulah kami mampu berjalan menembus batas
meraih segala asa yang telah lama tergantung
antara hayalan dan tantangan.

                                                                                             @ŘЧ, 1 Agustus ’09

Kamis, 31 Januari 2013

Artikel Pendidikan

MARI MENGGUNAKAN METODE BERVARIASI
DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN
Oleh: Muhammad Arifai, S.Pd
(Guru SMA N 1 Watansoppeng)
A. Pendahuluan
            Guru sebagai unsur yang terlibat langsung dalam interaksi pembelajaran di sekolah, hendaknya senantiasa berusaha menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi dalam menyajikan materi pelajaran di kelas agar  anak didik senantiasa memiliki semangat belajar dan selalu termotivasi untuk belajar di sekolah. Oleh karena itu, pengetahuan  guru terhadap berbagai pendekatan belajar atau metode pembelajaran  sangat diharapkan mengalami peningkatan dari hari ke hari, dan bahkan peningkatan itu diharapkan terjadi setiap saat dan berlanjut dari tahun ke tahun. Di sinilah peran dan tanggung jawab guru senantiasa dituntut untuk  membenahi diri dengan belajar dan terus belajar demi meningkatkan profesionalitasnya.         
            Sekarang ini masih ada anggapan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan dan metode ceramah sebagai pilihan utama dalam kegiatan pembelajaran. Untuk mengubah anggapan itu, diperlukan sebuah metode pembelajaran yang bervariasi agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung dengan baik dan berhasil.
            Berdasarkan uraian di atas, yang menjadi masalah dalam penulisan ini yaitu apakah yang dimaksud  metode bervariasi dan bagaimanakah menggunakan metode bervariasi tersebut dalam kegiatan pembelajaran?
Kata kunci: Metode bervariasi, kegiatan pembelajaran


B. Metode Bervariasi
            Metode bervariasi adalah metode yang digunakan secara bervariasi dalam kegiatan pembelajaran. Misalnya penggunaan metode ceramah divariasikan dengan tanya jawab, pemodelan, inkuiri, berkelompok, dan demonstrasi. Metode-metode tersebut baik digunakan secara bergantian dalam kegiatan pembelajaran.
            Penggunaan metode secara bervariasi dalam kegiatan pembelajaran dapat menjadikan anak peserta didik tidak jenuh, aktif, dan memiliki kreativitas belajar. Guru tidak hanya menceramahi peserta didik tetapi juga berusaha menjadikannya belajar untuk mengalami sendiri materi pembelajaran  yang sedang disajikan. Untuk menjadikan anak didik mengalami sendiri materi atau bahan pembelajaran yang diberikan, guru dapat menggunakan strategi contekstual teaching learning (CTL) yang di dalamnya terdapat bermacam-macam metode pembelajaran.
            CTL adalah strategi pembelajaran yang berusaha menjadikan siswa belajar sesuai dengan kondisi nyata atau menjadikan materi pembelajaran sesuai dengan kenyataan yang ada. Melalui strategi CTL, siswa diharapkan belajar melalui “mengalami” bukan “menghafal”.
C. Menggunakan Metode Bervariasi dalam Kegiatan Pembelajaran
            Untuk menggunakan metode bervariasi dalam pembelajaran, dapat dipilih strategi pembelajaran yang disebut contextual teaching learning (CTL). Menurut Johnson (2002: 25) bahwa sistem CTL merupakan suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu anak didik melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan  mereka sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya, sosialnya, dan budayanya.
            Pembelajaran CTL menempatkan anak didik di dalam konteks bermakna yang menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang sedang dipelajari dan sekaligus memperhatikan faktor kebutuhan individual anak dan peranan guru.
            Selain itu, metode bervariasi dalam kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dengan prinsip:          
1.      Membentuk kelompok belajar yang saling tergantung. Peserta didik saling belajar dari sesamanya di dalam kelompok-kelompok kecil dan belajar bekerja sama dalam tim lebih besar (kelas). Jadi, anak diharapkan untuk berperan aktif.
2.      Menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri. Lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri.
3.      Memperhatikan multi-intelegensi peserta didik. Dalam melayani anak di kelas, guru harus memadukan berbagai strategi pendekatan pembelajaran kontekstual sehingga pengajaran akan efektif bagi anak dengan berbagai intelegensinya itu.
4.      Menggunakan teknik-teknik bertanya untuk meningkatkan pembelajaran anak, perkembangan pemecahan, dan keterampilan berpikir tingkat tinggi.
5.      Menerapkan penilaian autentik (authentic assessment). Penilaian autentik mengevaluasi penerapan pengetahuan dan berpikir kompleks seorang anak, daripada  hanya sekedar hafalan informasi aktual.
D. Kesimpulan dan Saran
            Berdasarkan beberapa uraian yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa metode bervariasi adalah metode yang digunakan secara bervariasi dalam kegiatan pembelajaran. Untuk menggunakan metode bervariasi dalam pembelajaran, dapat dipilih strategi contextual teaching learning (CTL). Beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan secara bervariasi di antaranya : (1) bertanya (Questioning), (2) menemukan (Inquiry), (3) masyarakat belajar (Learning Community), (4) pemodelan (Modeling), dan (5) refleksi (Reflection).
            Berdasarkan kesimpulan di atas maka disarankan kepada rekan-rekan guru agar senantiasa menggunakan metode yang bervariasi pada saat melaksanakan kegiatan pembelajaran. Hal ini demi mewujudkan kegiatan belajar mengajar yang lebih menarik, menyenangkan, dan meningkatkan motivasi anak didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas.

Daftar Pustaka
Nurhadi, dkk. 2003. Pembelajaran Contextual Teaching Learning. Malang: Universitar Negeri Malang.

Sardiman AM. 2003. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta:
            Rajawali Press.

 
Sumanto, Wasty. 2005. Petunjuk Pembinaan Pendidikan. Surabaya:
            Usaha Nasional.
           
Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.

Yasin, dkk. 2003. Contextual Teaching and Learning dan KBK. Malang: Universitas Negeri Malang.
           





Opini


Hari Itu Wajah Sekolahku Berkerut
Hari itu, Senin, 29 Oktober 2012. Sekolahku, SMA N 1 Watansoppeng, tetap berdiri tegar di sudut jalan  Samudra sebelum membelok ke kanan jalan kesatria, atau ke kiri jalan Kayangan. Melewati pintu gerbang usang karena tergerus cuaca yang kadang panas kadang dingin dengan serbuan hujan tiba-tiba, dua guru berjenis kelamin perempuan dengan pakaian yang berbeda, satu berpakaian warna hijau atau yang biasa akrab disebut pakaian hansip (pertahanan sipil) dan satu lagi berpakaian seragam korpri (korps pegawai republik Indonesia) berwarna biru muda dengan motif garuda pancasila dan bunga melati, berdiri tegak menyambut siswa yang datang sambil mengulurkan tangan berjabat tangan.
Menurut daftar petugas yang tertempel di kaca kuseng ruangan tata usaha, guru yang bertugas menyambut siswa dengan simbol 3 S (salam, senyum, sapa) pagi itu ada lima guru. Namun, entah mengapa, yang berdiri hanya dua orang guru. Mungkin hal inilah yang menjadikan wajah sekolahku berkerut hari ini.
Matahari terus mendaki dinding-dinding cakrawala dan waktu pun berjalan meninggalkan kerutan-kerutan kesedihan di wajah sekolahku. Tibalah saatnya upacara bendera dimulai. Para siswa memasuki lapangan upacara bersama petugas upacara yang siap melaksanakan tugasnya. Saat protokol mulai membaca susunan acara upacara bendera, terlihat para guru dan staf tata usaha berdiri di teras ruangan guru. Meskipun upacara hari ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya karena hari ini semua guru dan staf tata usaha peserta upacara di haruskan menandatangani daftar hadir, namun guru dan staf tata usaha yang ikut upacara tetap tidak mencapai angka 70% dari jumlah guru yang  64 orang ditambah staf tata usaha sebanyak 5 orang. Kali ini, wajah sekolahku tambah berkerut.
Selesai upacara bendera, bel sekolah pun berteriak “ jam pelajaran pertama selesai, jam kedua dimulai”. Artinya, siswa diharapkan masuk kelas menunggu guru yang akan mengajar pada  jam pelajaran kedua dan ketiga. Para guru yang memiliki tugas mengajar pada jam kedua pun segera masuk kelas. Akan tetapi, siswa kelas X 4 hari ini tidak belajar. Menurut jadwal pelajaran yang terpampang di ruangan kurikulum, hari itu kelas X 4 belajar fisika mulai jam kedua hingga jam keempat.Namun, karena guru yang bertugas untuk mata pelajaran tersebut sakit dan guru yang menjadi team teachingnya atau mitra kerjanya juga tidak hadir, jadilah kelas X 4 mendapat bonus waktu untuk tidak belajar. Kali ini wajah sekolahku pun semakin berkerut.
Sungguh kasihan sekolahku. Diusianya yang menginjak 51 tahun, ia harus memikul dua sisi yang kian berat. Di satu sisi ia harus mencerdaskan generasi muda penerus perjuangan bangsa, menciptakan insan-insan intelektual yang akan melanjutkan pembangunan bangsa ini, dan menjadi pilar utama peningkatan mutu pendidikan di daerah ini, di sisi lain ia harus berjuang melawan penyakit yang menggerogoti nuraninya. Berbagai virus dengan karakter yang berbeda kian hari kian kuat menggigit dinding-dinding nurani tersebut. Bagaimanakah cara mengobati virus tersebut? Tuhan... berikanlah petunjuk-Mu.
                                                                                                                              (*/Mrf)

Sabtu, 18 Agustus 2012

Sekilas tentang SMAN 1 Watansoppeng yang berbudaya dan berkarakter

Visi Misi SMA N 1 Watansoppeng

Budaya salam senyum sapa di SMA N 1 Watansoppeng

Kantin kejujuran SMA N 1 Watansoppeng sebagai sarana menumbuhkan nilai-nilai kejujuran pada siswa

siswa yang terlambat datang harus membersihkan halaman sekolah


Artikel Pendidikan


          MENGINTEGRASIKAN NILAI-NILAI BUDAYA DAN
KARAKTER BANGSA DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN
          BAHASA INDONESIA DI SMA N 1 WATANSOPPENG
                                   Oleh: Muhammad Arifai, S.Pd
                              (Guru SMA Negeri 1 Watansoppeng)

A. Pendahuluan
            Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini ada indikasi karakter siswa semakin hari semakin menurun. Hal tersebut dapat dilihat pada maraknya aksi perkelahian dan tindak kriminal pada siswa akhir-akhir ini. Bahkan, ada siswa yang menjadi korban ditikam oleh temannya hanya karena masalah sepele.
            Terjadinya penurunan karakter atau dekadensi moral pada siswa telah mendapat perhatian dari pemerintah melalui pendidikan budaya dan karakter bangsa. Guru diharapkan dapat mengintegrasikan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa ke dalam setiap mata pelajaran yang diampunya.
            Namun, saat ini masih ada guru yang belum mampu mengitegrasikan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa ke dalam materi pembelajaran yang disajikan di kelas. Padahal sejatinya, banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengitegrasikan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa tersebut, seperti pada materi membaca puisi lama (Pantun) di kelas XII IPA/IPS SMA.
            Berdasarkan hal tersebut yang menjadi masalah dalam tulisan ini yaitu bagaimanakah mengintegrasikan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa dalam pembelajaran membaca pantun di kelas XII IPA/IPS ? Tujuan penulisan untuk mengetahui cara mengitegrasikan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa ke dalam pembelajaran membaca pantun di kelas XII IPA/IPS.
Kata kunci: nilai-nilai budaya dan karakter bangsa, kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia
B. Nilai-nilai Budaya dan Karakter Bangsa
            Budaya adalah keseluruhan sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan (belief) manusia yang dihasilkan masyarakat, sedangkan karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang  terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak.
            Tujuan pendidikan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yaitu (1) mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa, (2) mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang relegius, (3) menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik, (4) mengembangkan kemampuan peserta didik, dan (5) mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah.
Persoalan budaya dan karakter bangsa yang ada saat ini yaitu korupsi, kekerasan
kejahatan seksual, perusakan, perkelahian massa, kehidupan ekonomi yang konsumtif, dan kehidupan politik yang tidak produktif.
            Nilai-nilai dalam Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, cinta tanah air, menghargai prestasi, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, bersahabat/komunikatif, dan tangung jawab.
C. Mengintegrasikan Nilai-nilai Budaya dan Karakter Bangsa dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Pengintegrasian nilai-nilai budaya dan karakter bangsa dalam materi pelajaran dilakukan mulai pada saat penyusunan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) terhadap materi pelajaran atau KD (Kompetensi Dasar) yang akan disajikan di kelas. Materi pelajaran biasa digunakan sebagai bahan atau media untuk mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa. Oleh karena itu, guru tidak perlu mengubah pokok bahasan yang sudah ada, tetapi menggunakan materi pokok bahasan itu untuk mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa. Juga, guru tidak harus mengembangkan proses belajar khusus untuk mengembangkan nilai. Suatu hal yang selalu harus diingat bahwa satu aktivitas belajar dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.  Sebagai contoh, pada mata pelajaran bahasa Indonesia dengan KD. 6.1 Menanggapi pembacaan puisi lama tentang lafal, intonasi dan ekspresi yang tepat. Kegiatan pembelajaran dapat dirancang dengan mengitegrasikan beberapa nilai-nilai budaya dan karakter bangsa seperti nilai kerja sama, kreativitas, jujur, toleransi, disiplin, rasa ingin tahu, gemar membaca, dan kerja keras.
Adapun langkah-langkah mengitegrasikan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indoinesia dengan materi membaca puisi lama (Pantun) yaitu:
1.      Membagi siswa ke dalam beberapa kelompok ( satu kelompok terdiri atas 3 siswa), nilai yang dikembangkan adalah kerja sama.
2.      Setiap kelompok membaca puis lama (pantun) yang disediakan, nilai yang dikembangkan adalah nilai gemar membaca.
3.      Setiap kelompok tampil berbalas pantun yang berisi pantun nasihat, nilai yang dikembangkan adalah kreativitas, disiplin, rasa ingin tahu, dan kerja keras.
4.      Kelompok yang belum tampil menanggapi kelompok yang tampil berbalas pantun dari segi lafal, intonasi, dan ekspresi, nilai yang dikembangkan adalah jujur, kerja sama, dan toleransi.
5.      Pada kegiatan akhir pembelajaran, guru menyimpulkan materi pembelajaran, memberikan tugas atau PR, dan mengajak siswa berdoa bersama sebagai tanda syukur atas selesainya mengikuti kegiatan pembelajaran. Nilai yang dikembangkan pada kegiatan ini yaitu tanggung jawab, kerja keras, dan religius.
D. Kesimpulan dan Saran
            Dari uraian yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa pengitegrasian nilai-nilai budaya dan karakter bangsa ke dalam setiap mata pelajaran dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran mulai dari penyusunan rencana pembelajaran sampai pelaksanaan kegiatan pembelajaran di kelas. Nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang dapat diintegrasikan dalam materi pembelajaran antara lain: religius, jujur, kerja keras, kerja sama, kreativitas, gemar membaca, tanggung jawab, toleransi, disiplin, mandiri, rasa ingin tahu, dan cinta lingkungan.
            Berdasarkan hal tersebut maka disarankan kepada setiap guru mata pelajaran atau guru kelas agar senantiasa mengitegrasikan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa dalam setiap materi pembelajaran pada mata pelajaran yang diampunya. Hal ini guna membentuk manusia Indonesia yang seutuhnya sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dalam UU Sisdiknas Tahun 2003.
Daftar Rujukan
Depdiknas. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Kemendiknas. 2010. Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta:  Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum.
SMA N 1 Watansoppeng. 2011. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Watansoppeng: Bagian Urusan Kurikulum.

Undang-Undang  Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.